Akulah Ratu Antagonis
Mirah jadi tokoh antagonis novel dan perlu mengumpulkan nilai kebencian. Namun saat sistem error, keluarganya bisa dengar pikirannya! Ia malah jadi kesayangan tiga kakaknya dan selamatkan keluarga dari kebangkrutan. Tunangannya, Alvan, pun jadi selalu ingin dekat dengannya. Apa Mirah bisa menyelesaikan tugasnya?
Rekomendasi untuk Anda



印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Ibu Rumah Tangga vs. Kekuasaan Keluarga: Pertarungan Tanpa Kata
Ibu dalam baju ungu tidak perlu berteriak—tatapannya saja sudah cukup membuat Shen Lan berhenti sejenak. Namun lihatlah sang gadis muda: dia menawarkan buah, lalu menggigitnya pelan, seolah berkata, 'Aku tidak takut'. Dalam Akulah Ratu Antagonis, kekuatan tersembunyi justru terletak pada senyuman dan sendok kecil.
Pria Berjas Hitam Datang, Semua Berhenti Bernapas
Ketika pria berjas masuk dari pintu, suasana seakan diputar mundur. Semua diam, kecuali gadis berbaju kuning yang tetap makan semangka—dan justru itulah yang paling menakutkan. Dalam Akulah Ratu Antagonis, musuh terbesar bukanlah yang datang dengan amarah, melainkan yang datang dengan senyum dan tahu segalanya 😏.
Mangkuk Buah sebagai Senjata Rahasia
Siapa sangka mangkuk semangka bisa menjadi alat diplomasi? Gadis muda itu tidak berdebat, hanya menawarkan potongan buah—lalu semua orang mulai ragu pada posisi mereka sendiri. Dalam Akulah Ratu Antagonis, kelembutan sering kali lebih tajam daripada pedang, dan senyumnya adalah peluru terakhir yang tak dapat dihindari.
Keluarga Besar, Rahasia yang Tersembunyi di Balik Lampu Kristal
Ruangan megah dengan lampu kristal yang berkilau, tetapi wajah-wajah di sofa penuh ketegangan. Setiap tatapan, setiap gerak tangan, menyimpan cerita. Akulah Ratu Antagonis bukan hanya tentang satu tokoh jahat—tetapi tentang bagaimana keluarga bisa menjadi medan perang tanpa suara, hanya dengan ekspresi dan cangkir teh yang diletakkan pelan.
Kedatangan Sang Ratu Antagonis yang Membekukan Ruang Tamu
Saat Shen Lan masuk dengan gaun hitamnya, udara langsung berubah dingin 🌬️. Semua mata tertuju, tetapi justru wanita muda di sofa yang memegang mangkuk buah menjadi pusat perhatian—dia tidak takut, malah tersenyum sambil mengunyah semangka. Akulah Ratu Antagonis bukan hanya soal kejahatan, tetapi juga siapa yang berani diam di tengah badai.