Janji yang Terlupakan
Adam berjanji untuk menjemput orang tuanya tinggal bersamanya sebagai bentuk bakti, namun prioritasnya terhadap mertuanya mengungkap konflik dalam keluarga.Akankah Adam benar-benar memenuhi janjinya untuk menjemput orang tuanya atau akan mengutamakan mertuanya lagi?
Rekomendasi untuk Anda
Ulasan episode ini
Ulasan seru lainnya (3)




印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)
Ponsel Pink vs Foto Hitam-Putih
Dia memegang ponsel pink, tertawa lebar. Di adegan lain, seorang ibu menatap foto suami yang telah tiada, air mata mengalir pelan. Kontras ini menusuk: satu hidup dalam ilusi, satu terjebak dalam kenangan. Berbakti Bukan Uang mengingatkan kita—cinta tak bisa dibeli, hanya diwariskan. 🕯️
Tangan yang Menyentuh, Hati yang Jauh
Sentuhan bahu oleh wanita berpakaian biru terasa hangat, tetapi pria itu berpaling. Ekspresinya datar, seperti sedang memainkan peran. Di rumah, sang ibu menangis sendiri di depan lilin. Berbakti Bukan Uang menggambarkan betapa mudahnya kita berpura-pura di depan orang lain, namun rapuh di balik pintu. 💔
Telepon dari Rumah, Jawaban dari Kota
Ibu menangis sambil menerima telepon. Di sisi lain, pria itu tertawa santai di sofa mewah. Tak ada kata 'maaf', hanya 'iya Bu'. Berbakti Bukan Uang bukan drama keluarga biasa—ini kritik halus tentang generasi yang lupa cara pulang. 📞
Makanan di Piring, Duka di Hati
Chopstick mengangkat sayur rebus ke mangkuk kecil di depan foto almarhum. Setiap gigitan penuh kesedihan. Tidak ada hiasan, tidak ada suara—hanya cahaya lilin dan napas berat. Berbakti Bukan Uang mengajarkan: pengorbanan terbesar sering diam, tanpa pemberitahuan. 🍲
Perhiasan Mutiara, Jiwa yang Retak
Wanita berpakaian biru memakai anting mutiara mahal, tersenyum lebar, tetapi matanya tak berkedip saat pria itu berbicara. Ia tahu sesuatu—tetapi pura-pura bodoh. Berbakti Bukan Uang menyuguhkan karakter yang cerdas namun terjebak dalam drama sosial. Apakah dia pelindung atau penipu? 🤍