Konflik Bakti yang Terlambat
Adam, seorang dokter yang sibuk merawat mertuanya, tidak hadir pada upacara kremasi ayahnya sendiri. Meskipun ayahnya selalu bangga padanya, Adam dianggap melupakan orang tuanya setelah menikah. Konflik muncul ketika masyarakat sekitar mengkritik ketidakhadirannya dan mempertanyakan bakti sejatinya kepada orang tua.Akankah Adam menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarganya yang masih hidup?
Rekomendasi untuk Anda
Ulasan episode ini
Ulasan seru lainnya (3)




印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)
Ibu yang Menangis Tanpa Suara
Wajah ibu yang menangis diam-diam sambil menyentuh dada suaminya—tidak ada teriakan, hanya air mata yang jatuh perlahan. Itulah kekuatan Berbakti Bukan Uang: kesedihan yang tak perlu dibesar-besarkan untuk terasa menusuk. 🌧️
Kepala Keluarga yang Tumbang
Pria berambut uban terbaring tenang, tetapi di sekelilingnya—keributan, kebingungan, tangis. Berbakti Bukan Uang mengingatkan: kematian bukan akhir, melainkan awal dari pertanyaan besar yang tak terjawab. 💔
Kain Putih di Kepala, Luka di Hati
Semua berkumpul dengan kain putih di kepala, tetapi ekspresi mereka berbeda-beda: ada yang marah, bingung, pasif. Berbakti Bukan Uang jeli menangkap konflik keluarga yang tersembunyi di balik ritual duka. 🕊️
Telepon dari Dunia Lain?
Ibu mengangkat ponsel, layar menunjukkan 'Anak'—tetapi sang suami sudah tak bernapas. Adegan ini membuat kita bertanya: apakah dia benar-benar menelepon? Atau hanya mencari keberanian untuk mengatakan selamat tinggal? 📱
Toko Rokok vs Ruang Jenazah
Dari toko rokok yang cerah ke ruang duka yang suram—transisi tiga hari dalam Berbakti Bukan Uang begitu cepat, tetapi rasanya seperti tiga puluh tahun. Kontras visual ini membuat kita ngeri: hidup bisa berubah dalam satu panggilan. ⏳