PreviousLater
Close

Menyalalah, Ibu Agen Spesial Episode 35

like4.4Kchaase22.2K

Pertarungan Sengit untuk Menyelamatkan Siska

Angel Dimar, mantan agen spesial Tirad, terpaksa menghadapi masa lalunya setelah putrinya, Siska Damir, diculik oleh geng Luis Tanadi. Dalam upaya untuk menemukan Siska, Angel disiksa untuk mendapatkan informasi tentang lokasi putrinya.Akankah Angel berhasil menyelamatkan Siska sebelum terlambat?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Saat Uang Tak Berarti Apa-Apa di Hadapan Senyum Dingin Lin Mei

Bayangkan Anda berada di ruang tertutup, dikelilingi oleh cahaya neon yang berubah warna setiap tiga detik—merah, ungu, biru—seperti irama jantung pasien di ICU. Di tengah ruangan, ada meja hitam mengkilap, di atasnya berserakan uang kertas dolar AS, beberapa tumpukan rapi, beberapa tercecer seperti daun kering di angin kencang. Di sampingnya, sebuah koper logam terbuka, di dalamnya bukan emas atau berlian, tapi alat-alat yang lebih mengerikan: gunting kuning, obeng, kabel listrik, dan sebuah kotak kecil berlabel 'Veritas-9'. Dan di lantai, tergeletak seorang pria muda bernama Chen Wei, wajahnya berdarah, napasnya tidak teratur, matanya membulat seolah baru saja melihat kematian berdiri di depannya—dan ternyata, kematian itu berwujud seorang wanita bernama Lin Mei, yang dikenal dalam lingkaran gelap sebagai Menyalalah, Ibu Agen Spesial. Ya, bukan julukan sembarangan. Itu adalah gelar yang diberikan oleh mereka yang pernah bertemu dengannya dan selamat—atau setidaknya, masih bisa menceritakan kisahnya kepada orang lain. Karena banyak yang tidak sempat bercerita. Mereka hanya meninggalkan jejak darah dan satu gunting kuning di lantai. Adegan ini bukan adegan kekerasan biasa. Ini adalah ritual. Ritual penghakiman yang dilakukan oleh seseorang yang tidak percaya pada pengadilan, tidak percaya pada polisi, bahkan tidak percaya pada Tuhan—ia hanya percaya pada bukti, pada konsistensi, dan pada reaksi tubuh manusia saat berada di ambang kehancuran. Chen Wei, dengan jaket cokelatnya yang masih rapi meski kotor darah, bukanlah korban pertama. Ia adalah yang ke-17 dalam daftar internal yang disimpan di flashdisk terenkripsi di dalam sepatu Lin Mei. Ia dianggap 'berpotensi', artinya: ia tahu lebih banyak daripada yang diakui, tapi belum cukup berani untuk mengatakan semuanya. Maka, Lin Mei tidak membunuhnya. Ia memberinya pilihan: bicara, atau rasakan bagaimana gunting kuning itu bergerak perlahan di sepanjang garis rahangnya—bukan untuk memotong, tapi untuk mengingatkan: 'Kamu masih punya mulut. Gunakanlah dengan bijak.' Yang paling mencengangkan bukan darahnya, bukan ekspresi ketakutannya, tapi bagaimana Lin Mei bergerak. Ia tidak berteriak. Tidak mengancam dengan kata-kata kasar. Ia hanya duduk di pinggiran meja, satu kaki menggantung, sepatu hitamnya menyentuh lantai dengan suara 'tok' pelan—suara yang lebih menakutkan daripada dentuman pistol. Lengan bajunya yang berbordir naga emas bergerak halus saat ia mengambil gunting itu, lalu memutarnya di antara jari-jarinya seperti seorang ilusionis yang sedang mempersiapkan trik terakhir. Chen Wei mencoba berbicara, tapi darah menghalangi. Ia mengeluarkan suara serak, 'Aku... aku hanya eksekutor...' Dan Lin Mei tersenyum. Bukan senyum lebar, bukan senyum sinis—tapi senyum yang muncul saat seseorang menemukan jawaban yang sudah lama dicari. 'Eksekutor,' katanya pelan, suaranya seperti sutra yang mengiris kulit. 'Jadi siapa yang memberimu perintah? Siapa yang mengatakan padamu bahwa Chen Wei boleh mati hari ini?' Pertanyaannya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ia sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin melihat apakah Chen Wei akan berbohong lagi, atau akhirnya jujur—karena kejujuran, dalam dunia mereka, adalah bentuk keberanian paling ekstrem. Menyalalah, Ibu Agen Spesial tidak pernah menggunakan kekerasan secara sembarangan. Setiap sentuhan tangannya memiliki makna. Saat ia memegang dagu Chen Wei, jari-jarinya tidak hanya menekan tulang, tapi juga merasakan denyut nadi di bawah kulit—detak jantung yang mempercepat, lalu melambat, lalu berhenti sejenak saat ia menyebut nama 'Li Zhen'. Ya, Li Zhen—mantan mentor Chen Wei, sekaligus orang yang diduga menjual informasi rahasia ke pihak ketiga. Dan di saat itu, Chen Wei berhenti bernapas. Bukan karena takut, tapi karena kaget. Bagaimana ia tahu? Karena Lin Mei bukan hanya agen. Ia adalah arsip hidup dari semua rahasia yang pernah dikubur di bawah lantai kota ini. Ia mengenal setiap nama, setiap kode, setiap tatapan mata yang berbohong. Dan ia tidak butuh kamera, tidak butuh rekaman—ia hanya butuh lima detik menatap seseorang untuk tahu apakah ia sedang berbohong. Latar belakang layar LED menampilkan peta kota dengan jalur merah yang berkedip—jalur yang telah dilalui Chen Wei dalam tiga hari terakhir. Setiap titik adalah lokasi pertemuan, setiap garis adalah jejak digital yang tidak terhapus. Lin Mei tidak perlu menyelidiki. Ia hanya perlu mengingat. Dan ingatannya sempurna, seperti database yang tidak pernah error. Di sudut ruangan, terlihat botol sampanye yang setengah kosong—bukan untuk merayakan, tapi sebagai simbol: 'Kita masih punya waktu. Tapi tidak banyak.' Chen Wei mencoba bangkit, tapi kaki Lin Mei masih menginjak pahanya, lembut tapi tak bisa dilawan. Ia bukan sedang menahan tubuhnya. Ia sedang menahan keinginannya untuk lari. Karena dalam pertarungan ini, lari bukan solusi. Satu-satunya cara keluar adalah dengan berbicara—dan berbicara dengan kebenaran murni, tanpa filter, tanpa diplomasi, tanpa 'mungkin' atau 'sejauh saya tahu'. Adegan ini mencapai puncaknya saat Lin Mei mendekat, wajahnya hanya berjarak sepuluh sentimeter dari Chen Wei. Mata mereka saling bertemu. Tidak ada yang berkedip. Darah di bibir Chen Wei mulai mengering, membentuk kerak merah yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Lin Mei berbisik, 'Kalau kamu berbohong sekali lagi, aku tidak akan memotong wajahmu. Aku akan biarkan kamu hidup. Dengan semua yang kamu ketahui, di dalam sel yang gelap, tanpa cahaya, tanpa suara, tanpa nama. Hanya kamu dan ingatanmu. Dan ingatan itu... akan membunuhmu lebih cepat daripada darah.' Kalimat itu bukan ancaman. Itu adalah janji. Dan Chen Wei tahu—ia pernah melihat apa yang terjadi pada orang yang dipenjara dalam 'sel ingatan' itu. Mereka tidak mati. Mereka hilang. Seperti kabut yang dihisap angin, tanpa jejak. Menyalalah, Ibu Agen Spesial bukan tokoh fiksi yang dibuat untuk menakut-nakuti. Ia adalah personifikasi dari konsekuensi. Dalam dunia di mana uang bisa membeli kekuasaan, ia adalah orang yang mengingatkan: kekuasaan itu rapuh. Di mana teknologi bisa menyembunyikan jejak, ia adalah orang yang tahu bahwa tubuh manusia selalu berbicara—melalui detak jantung, pupil mata, getaran tangan, dan cara seseorang menelan ludah saat ditanya pertanyaan yang paling ditakuti. Chen Wei akhirnya berbicara. Suaranya serak, tapi jelas. 'Li Zhen... dia bekerja untuk 'Ordo Bayangan'.' Dan di saat itu, Lin Mei menarik napas panjang—bukan karena kaget, tapi karena akhirnya, ia menemukan titik awal. Bukan akhir dari pencarian, tapi awal dari penghakiman yang lebih besar. Karena Ordo Bayangan bukan organisasi. Itu adalah jaringan. Dan jaringan itu harus dihancurkan, satu benang demi satu benang—dengan gunting kuning, dengan senyum dingin, dan dengan keheningan yang lebih mengerikan daripada teriakan. Adegan ini berakhir dengan Lin Mei berdiri, membersihkan ujung gunting dengan kain sutra hitam, lalu memasukkannya kembali ke dalam koper. Chen Wei masih tergeletak, tapi matanya tidak lagi penuh ketakutan. Kini, ada sesuatu yang baru: pengakuan. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia akhirnya mengerti—bahwa di hadapan Menyalalah, Ibu Agen Spesial, tidak ada tempat untuk dusta. Hanya kebenaran. Dan kebenaran, seperti darah, selalu menemukan jalannya keluar.

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Darah di Mulut dan Gunting Kuning yang Menggigil

Dalam adegan yang memukau ini, kita disuguhkan dengan pertarungan psikologis yang tak terlihat senjata api, tapi justru lebih mengerikan karena menggunakan keheningan, cahaya neon merah yang berkedip seperti detak jantung yang tak stabil, dan sebuah gunting kuning yang tampak biasa namun berubah menjadi simbol teror dalam tangan seorang wanita bernama Lin Mei—yang dalam konteks serial ini dikenal sebagai Ibu Agen Spesial. Ya, Menyalalah, Ibu Agen Spesial bukan sekadar julukan; itu adalah gelar yang diberikan oleh para korban yang selamat, atau lebih tepatnya, mereka yang masih hidup setelah bertemu dengannya di ruang bawah tanah berlampu biru tua dan meja hitam mengkilap yang dipenuhi uang kertas berjejer rapi seperti papan catur permainan hidup-mati. Di tengah semua itu, ada seorang pria muda bernama Chen Wei, yang wajahnya berlumur darah palsu—tapi ekspresinya? Tidak palsu sama sekali. Matanya membulat, napasnya tersengal, giginya terbuka lebar dalam rasa sakit yang nyata, sementara tangannya mencoba menahan dagu yang dijepit oleh jari-jari Lin Mei yang kuat, berlapis kain bordir tradisional dengan motif naga emas dan merah—detail yang tidak kebetulan, melainkan kode identitas: ia bukan agen biasa, ia adalah warisan dari keluarga intelijen kuno yang masih memegang ritual kekerasan sebagai bentuk pengadilan internal. Adegan dimulai dengan Chen Wei terduduk, tubuhnya condong ke belakang, kepala tertekuk akibat tekanan pada rahangnya. Darah mengalir dari sudut mulutnya, mengotori kerah kemeja batik biru yang ia kenakan—pakaian yang kontras dengan jaket cokelatnya, seolah-olah ia masih berusaha menjaga martabat meski sudah dikunci dalam posisi inferior. Di latar belakang, sebuah koper logam terbuka, penuh dengan uang dolar AS, gunting kuning, obeng, dan sebuah botol kecil berlabel 'X-7' yang tak jelas isinya—mungkin racun, mungkin obat bius, atau hanya minyak pelumas untuk alat-alat penyiksaan. Cahaya merah menyinari wajah Chen Wei seperti lampu alarm, sementara Lin Mei berdiri di atasnya, satu kaki menginjak paha kirinya, seolah menandai wilayah kekuasaan. Gerakannya lambat, terukur, seperti kucing yang sedang memainkan tikus sebelum menggigit lehernya. Ia tidak berteriak, tidak mengancam dengan kata-kata kasar. Ia hanya menatap, lalu tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk penonton berdiri. Itu bukan senyum jahat, bukan juga senyum puas. Itu adalah senyum seorang guru yang sedang mengoreksi kesalahan muridnya: 'Kamu salah langkah, Chen Wei. Sekarang, kita akan belajar lagi.' Menyalalah, Ibu Agen Spesial memang tidak pernah menggunakan pistol. Ia percaya bahwa rasa sakit sejati bukan datang dari peluru, tapi dari ketidakpastian. Ketika ia mengambil gunting kuning itu dari koper, gerakannya tidak terburu-buru. Ia memutar gagangnya di antara jari-jarinya, seolah sedang memilih alat makan untuk makan malam. Chen Wei melihatnya, dan matanya berubah—dari ketakutan menjadi kebingungan, lalu kepanikan mutlak. Ia mencoba berbicara, tapi darah menghalangi suaranya. Yang keluar hanyalah desisan, seperti ular yang terjepit. Lin Mei mendekat, lututnya menyentuh pinggul Chen Wei, lengan kanannya menekan lehernya, sementara tangan kiri mengangkat gunting itu ke arah pipinya. Bukan ke mata, bukan ke tenggorokan—tapi ke pipi. Sebuah ancaman yang lebih mengerikan daripada kematian: ancaman kehilangan identitas. Di dunia mereka, wajah adalah dokumen resmi. Jika wajah rusak, kamu tidak bisa lagi bersembunyi, tidak bisa lagi menyamar, tidak bisa lagi menjadi siapa pun selain 'korban'. Latar belakang layar LED berubah dari pemandangan hutan hijau ke pola titik-titik merah yang berkedip seperti jaring laba-laba digital—simbol bahwa mereka berada di dalam sistem pengawasan tertutup, tempat tidak ada yang bisa melihat, tidak ada yang bisa mendengar, dan tidak ada yang akan datang menyelamatkan. Di sudut meja, terlihat botol sampanye setengah kosong dan gelas kristal berisi cairan bening—kontras brutal antara kemewahan dan kekejaman. Lin Mei tidak minum. Ia hanya menatap Chen Wei, lalu berkata pelan, 'Kamu pikir uang bisa membeli segalanya? Termasuk nyawa?' Suaranya tenang, tapi setiap kata menusuk seperti jarum suntik. Chen Wei menggeleng, air mata bercampur darah mengalir di pipinya. Ia mengangkat kedua tangan, telapak terbuka—bukan sebagai tanda menyerah, tapi sebagai permohonan: 'Aku tidak tahu... aku hanya menjalankan perintah...' Dan di situlah letak kejeniusan karakter Lin Mei: ia tidak langsung percaya. Ia menunduk, menggeser gunting itu ke arah telinga Chen Wei, lalu berbisik, 'Kalau begitu, tunjukkan padaku siapa yang memberimu perintah. Atau... kita mulai dari sini.' Jari-jarinya menyentuh daun telinga Chen Wei, dan kita bisa melihat otot lehernya berkedut—ia sedang menghitung detik sebelum ia benar-benar memotongnya. Adegan ini bukan tentang kekerasan fisik semata. Ini adalah pertunjukan kekuasaan melalui kontrol emosi. Lin Mei tidak perlu memukul. Cukup dengan memegang dagu seseorang, menatap matanya, dan mengangkat gunting kuning itu ke tingkat mata, ia sudah menguasai seluruh ruang. Chen Wei, yang awalnya tampak seperti pria berkuasa dengan jaket rapi dan kalung rantai perak, kini terlihat seperti anak kecil yang ketakutan di tengah hujan badai. Ekspresinya berubah tiap dua detik: dari marah, ke takut, ke harap, ke putus asa, lalu kembali ke takut—sebuah siklus emosional yang dipaksakan oleh Lin Mei seperti seorang konduktor orkestra kehancuran. Dan yang paling menarik: di tengah semua itu, Lin Mei tetap tenang. Rambutnya terikat rapi, tidak sehelai pun yang lepas. Makeup-nya masih sempurna, meski ia baru saja menekan wajah seseorang dengan darah. Itu bukan ketidaksensitifan. Itu adalah disiplin. Ia bukan pembunuh. Ia adalah hakim. Dan dalam dunia gelap yang mereka huni, hakim tidak boleh goyah. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—frase itu bukan sekadar ejekan. Itu adalah mantra yang diucapkan oleh para agen muda saat mereka melihat rekaman latihan ini di ruang briefing. Mereka tahu, jika suatu hari mereka berada di posisi Chen Wei, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka kecuali kejujuran mutlak. Karena Lin Mei bukan tipe orang yang akan berhenti setelah satu luka. Ia akan terus menggali, sampai ia menemukan akar kebohongan, sampai ia melihat jiwa yang sebenarnya bersembunyi di balik senyum palsu dan janji manis. Dalam serial ini, nama 'Chen Wei' bukanlah karakter utama, tapi ia adalah cermin bagi semua yang berani bermain api tanpa memahami bahwa api itu dikendalikan oleh seseorang yang tidak takut terbakar. Dan Lin Mei? Ia bukan antagonis. Ia adalah keseimbangan. Di dunia di mana kebenaran dibungkus dalam amplop berisi uang, ia adalah orang yang membuka amplop itu—dengan gunting kuning, perlahan, dan tanpa ragu. Pada detik terakhir adegan, ketika Lin Mei akhirnya melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak, Chen Wei jatuh ke samping, napasnya tersengal, tangan masih memegang pipinya yang belum terluka—tapi dia tahu, luka itu akan datang. Karena Lin Mei tidak pernah mengancam tanpa menepati. Ia hanya menunggu waktu yang tepat. Di layar belakang, gambar berubah menjadi peta kota dengan titik-titik merah berkedip—lokasi-lokasi lain yang sedang diawasi. Dan kita tahu: ini bukan akhir. Ini hanya babak pertama dari interogasi yang lebih dalam. Menyalalah, Ibu Agen Spesial tidak pernah berhenti. Ia hanya beristirahat sejenak, lalu kembali—dengan gunting baru, pertanyaan baru, dan darah yang masih segar di ujung jarinya.