PreviousLater
Close

Menyalalah, Ibu Agen Spesial Episode 4

like4.4Kchaase22.2K

Konflik dengan Keluarga Tanadi

Angel terlibat dalam konflik dengan Keluarga Tanadi setelah mereka mencoba mengintimidasi dan mengancamnya, menunjukkan kekuatan dan pengaruh mereka yang besar. Angel menantang mereka dengan berani, mempertanyakan siapa yang benar-benar berkuasa.Apakah Angel bisa mengalahkan Keluarga Tanadi dan melindungi putrinya dari ancaman mereka?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Xiao Mei dan Rahasia di Balik Apron Kotak-Kotak

Restoran itu tidak terlihat istimewa. Meja kayu berwarna merah tua, bangku panjang tanpa sandaran, lantai beton yang sudah mulai retak di beberapa tempat—semuanya memberi kesan ‘tempat biasa’. Tapi siapa pun yang pernah duduk di sana, bahkan hanya satu kali, akan tahu: ini bukan tempat biasa. Ini adalah tempat di mana kata-kata lebih berbahaya dari pisau, dan senyuman bisa menjadi senjata paling mematikan. Di tengah keramaian malam itu, semua mata tertuju pada dua sosok utama: Wang Daqiang, pria berjaket kulit dengan kalung emas yang mengkilap seperti janji palsu, dan Luís Tanadi, pria muda berjaket cokelat yang masuk dengan sikap santai namun penuh kepastian. Tapi yang benar-benar menarik perhatian bukan mereka berdua—melainkan seorang perempuan di sudut ruangan, berdiri diam dengan tangan di belakang punggung, mengenakan apron kotak-kotak merah-hitam bertuliskan ‘Happylife’ dan gambar kucing lucu di saku depannya. Namanya Xiao Mei. Dan ia bukan sekadar pelayan. Xiao Mei tidak berbicara banyak. Ia jarang tersenyum lebar, tidak pernah tertawa keras, dan selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat—seperti bayangan yang tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang. Saat Wang Daqiang mulai mengancam dengan suara kerasnya, Xiao Mei tidak mundur. Ia hanya mengambil sapu kecil dari balik meja, lalu membersihkan lantai di dekat kaki Luís Tanadi—gerakan yang tampak biasa, tapi sebenarnya adalah sinyal: ‘Dia aman. Untuk saat ini.’ Di belakangnya, adiknya, Xiao Lan, berdiri tegak dengan tangan menggenggam lengan Xiao Mei, matanya membulat penuh kekhawatiran. Xiao Lan tahu lebih banyak daripada yang ditunjukkan wajahnya. Ia tahu tentang surat yang dikirimkan tiga bulan lalu, tentang foto lama yang disimpan di balik rak bumbu, dan tentang kode-kode yang hanya dimengerti oleh dua orang: Xiao Mei dan orang yang belum datang—namun kini sudah berada di dalam ruangan. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—begitu banyak orang menyebut Xiao Mei dalam bisikan, terutama ketika mereka melihat cara ia mengatur posisi mangkuk saus di meja Luís Tanadi. Ia tidak meletakkannya sembarangan. Ia memutar mangkuk sejauh 10 derajat ke kanan, lalu menempatkan sendok di sisi kiri, dengan ujungnya mengarah ke arah pintu dapur. Itu bukan kebetulan. Itu adalah bahasa tubuh yang telah dilatih selama bertahun-tahun, sejak ia masih kecil dan belajar dari ibunya—seorang wanita yang dulunya bekerja sebagai agen rahasia di era 90-an, sebelum menghilang tanpa jejak setelah insiden di Pelabuhan Selatan. Xiao Mei bukan hanya pelayan. Ia adalah penghubung. Penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara kebohongan dan kebenaran, antara kekuasaan Wang Daqiang dan kehadiran Luís Tanadi yang datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pewaris sebuah warisan yang telah lama tertidur. Saat Luís Tanadi duduk dan mulai makan, Xiao Mei tidak berdiri diam. Ia bergerak—perlahan, tanpa membuat suara—menuju lemari kecil di belakang dapur. Di dalamnya bukan peralatan masak, tapi sebuah kotak kayu berukir naga kecil di penutupnya. Ia membukanya, mengambil sebuah amplop kuning usang, lalu menyelipkannya ke dalam saku apronnya. Amplop itu berisi dokumen: akta kelahiran, surat wasiat, dan satu lembar kertas berisi nama-nama yang dicoret satu per satu—termasuk nama Wang Daqiang di baris ke-7. Di tengah kerumunan, Wang Daqiang mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang salah. Bukan karena Luís Tanadi datang—tapi karena cara Xiao Mei menatapnya. Bukan dengan rasa takut, bukan dengan kemarahan—tapi dengan belas kasihan. Seperti seorang guru yang melihat muridnya gagal untuk kesekian kalinya, dan tahu bahwa kali ini, tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Wang Daqiang mencoba mengalihkan perhatian dengan mengacungkan jari ke arah pria berjas hitam di belakangnya, memberi isyarat untuk maju. Tapi sebelum pria itu bergerak, Xiao Mei berbicara—suaranya pelan, tapi cukup keras untuk didengar oleh semua orang di radius tiga meter: “Kau lupa, Daqiang. Di sini, bukan kau yang mengatur waktu.” Suasana berubah dalam sekejap. Orang-orang berhenti berbicara. Bahkan musik latar yang tadinya mengalun lembut dari speaker kecil di dinding, tiba-tiba berhenti. Luís Tanadi mengangkat kepala, matanya bertemu dengan mata Xiao Mei. Dan dalam satu detik, mereka berdua tahu: semuanya akan berakhir malam ini. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—kata-kata itu kini bukan lagi ejekan dari para pelanggan yang tidak tahu apa-apa. Itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa Xiao Mei bukan sekadar wanita dengan apron lucu, tapi seorang strategis yang telah merencanakan setiap gerak langkah ini sejak enam bulan lalu, sejak ia menerima telegram dari kota seberang laut: ‘Dia akan datang. Siapkan segalanya. Jangan percaya pada siapa pun, termasuk pada dirimu sendiri.’ Dan saat pintu kembali terbuka, kali ini dengan suara dentuman yang lebih keras, Xiao Mei tidak berlari. Ia hanya mengambil langkah kecil ke depan, lalu meletakkan tangan kanannya di atas meja—telapak terbuka, jari-jari lurus, ibu jari menyentuh tepi mangkuk saus. Gerakan itu dikenali oleh Master Chen, pria berpeci hitam yang baru saja masuk bersama empat pengawal bersenjata. Ia mengangguk pelan, lalu memberi isyarat agar pasukannya tidak bergerak. Karena ia tahu: jika Xiao Mei memberi sinyal itu, maka segalanya sudah dalam kendali. Luís Tanadi akhirnya berbicara. Suaranya tenang, tapi penuh kekuatan: “Aku bukan datang untuk bertarung. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang pernah diambil dariku. Termasuk nama ayahku.” Wang Daqiang tertawa keras—tapi tawanya terdengar goyah, seperti kayu yang mulai retak. “Nama ayahmu? Kau pikir siapa ayahmu? Pria yang mati di pelabuhan itu? Atau pria yang kabur dengan uang kita dan menghilang selama dua puluh tahun?” Xiao Mei menghela napas, lalu berbicara lagi, kali ini lebih keras: “Ayahnya bukan siapa-siapa yang kau kenal, Daqiang. Ayahnya adalah orang yang menulis surat itu. Orang yang menyembunyikan Luís di desa pegunungan selama sepuluh tahun. Orang yang mengajarinya membaca, menulis, dan… mengenal kebenaran.” Di belakangnya, Xiao Lan mulai menangis. Ia tidak bisa menahan lagi. Karena ia tahu—surat itu juga ditujukan untuknya. Di bagian bawah, tertulis: ‘Untuk Xiao Lan, jika kau membaca ini, berarti aku sudah tiada. Tapi jangan takut. Kakakmu akan menjagamu. Dan suatu hari, kau akan bertemu dengan saudaramu yang sebenarnya.’ Menyalalah, Ibu Agen Spesial—kata-kata itu kini menggema di seluruh ruangan, bukan sebagai sindiran, tapi sebagai pengakuan atas keberanian seorang wanita yang memilih diam bukan karena takut, tapi karena tahu kapan harus berbicara. Xiao Mei bukan pahlawan dalam arti tradisional. Ia tidak mengayunkan tinju, tidak menembakkan peluru, tidak berteriak di tengah kerumunan. Ia hanya berdiri, mengenakan apron kotak-kotak, dan mengingatkan semua orang: bahwa di balik setiap kekuasaan yang tampak kokoh, ada kelemahan yang tersembunyi—dan kelemahan itu memiliki nama: kebenaran. Dan saat Luís Tanadi berdiri, mengambil amplop kuning dari saku Xiao Mei, lalu membukanya di depan semua orang—di dalamnya bukan uang, bukan senjata, tapi sebuah kunci besi tua dan selembar kertas berisi alamat: ‘Gudang No. 7, Jalan Bekas Rel Kereta, Jam 24:00.’ Wang Daqiang pucat. Ia tahu alamat itu. Itu adalah tempat di mana semua bukti disimpan. Tempat di mana masa lalunya akan dihakimi. Xiao Mei tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. Senyum kecil, tapi penuh makna. Ia menatap Luís Tanadi, lalu berbisik: “Selamat datang pulang, adikku.” Dan dalam detik berikutnya, lampu utama menyala kembali—seolah waktu kembali berjalan, dan cerita baru pun dimulai.

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Ketika Luís Tanadi Masuk, Semua Berhenti Bernapas

Dalam suasana restoran sederhana yang dipenuhi meja kayu berwarna merah dan bangku panjang tanpa sandaran, udara terasa sesak bukan karena kepadatan orang, tapi karena tekanan emosional yang menggantung di antara setiap napas. Dinding yang mulai mengelupas, lampu gantung berbentuk kerucut hitam, dan jam dinding tua di atas pintu masuk—semuanya menjadi saksi bisu dari sebuah pertemuan yang bukan sekadar makan malam, melainkan pertarungan tak terlihat antara kekuasaan, rasa malu, dan harapan yang tersisa. Di tengah kerumunan, seorang pria berambut pendek dengan jenggot tipis, mengenakan jaket kulit hitam dan kalung emas tebal, berdiri tegak seperti patung yang baru saja dihidupkan oleh suara kerasnya sendiri. Dia adalah Wang Daqiang—bukan nama aslinya, tapi julukan yang menempel sejak ia mulai mengatur urusan ‘khusus’ di kota kecil ini. Matanya yang tajam bergerak cepat, memindai wajah-wajah di sekitarnya: dua pria berpakaian jas hitam dengan ekspresi datar, seorang wanita muda dalam seragam biru muda yang tampak seperti staf restoran, dan seorang perempuan lain dengan apron kotak-kotak merah-hitam bertuliskan ‘Happylife’, lengkap dengan gambar kucing lucu di saku depannya. Perempuan itu—Xiao Mei—tidak berbicara, tapi matanya berbicara lebih keras dari siapa pun. Setiap kali Wang Daqiang mengangkat suaranya, dia menunduk sedikit, lalu mengangkat pandangan ke arah pintu belakang, seolah menunggu sesuatu… atau seseorang. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—begitu banyak orang menyebutnya dalam bisikan, terutama ketika Xiao Mei mulai menggerakkan tangannya dengan cara tertentu: ibu jari dan telunjuk menyentuh tepi apron, lalu berhenti sejenak sebelum mengambil sapu kecil dari balik meja. Gerakan itu bukan kebiasaan biasa. Itu adalah kode. Dan hari itu, kode itu ditekan dua kali. Tepat saat Wang Daqiang mengacungkan jari ke arah pria berjas abu-abu yang berdiri diam di sudut, pintu restoran terbuka lebar. Cahaya dari luar menyilaukan, membuat siluet seorang pria muda tampak seperti tokoh dari film lama—jaket cokelat longgar, kemeja biru toska yang rapi, dan celana hitam yang tidak kusut meski ia baru saja berlari dari ujung jalan. Namanya Luís Tanadi. Bukan nama Cina, bukan juga nama Barat—tapi kombinasi yang sengaja dipilih untuk menyembunyikan asal-usulnya. Di belakangnya, dua pria lain ikut masuk: satu berbaju denim biru muda dengan motif bunga, satunya lagi mengenakan kemeja batik hitam-putih yang mencolok. Mereka tidak berjalan—mereka *mengalir* ke dalam ruangan, seperti air yang menemukan celah di antara batu-batu besar. Wang Daqiang berhenti bicara. Mulutnya masih terbuka, tapi suaranya lenyap. Ia menatap Luís Tanadi dengan campuran keheranan dan kecurigaan. Bukan karena Luís tampan atau berwibawa—tapi karena cara Luís duduk. Ia tidak memilih kursi paling depan atau paling belakang. Ia duduk di kursi tengah, tepat di sebelah meja yang berisi potongan daging mentah, botol bir hijau, dan mangkuk kecil berisi saus kuning. Lalu, tanpa ragu, ia mengambil sepotong daging dengan jari telunjuk dan ibu jari, membawanya ke mulut, dan mengunyah pelan—seolah sedang mengecap rasa dari masa lalu yang telah lama tertimbun debu. Di sisi lain ruangan, Xiao Mei menarik napas dalam-dalam. Ia berbisik pada gadis muda di sampingnya, yang ternyata adalah adiknya, Xiao Lan: “Dia datang… seperti yang dikatakan dalam surat itu.” Xiao Lan hanya mengangguk, matanya membesar saat melihat Luís Tanadi mengangkat gelas kecil berisi minuman kuning, lalu meneguknya perlahan—tanpa menatap siapa pun, tapi seolah melihat semua orang sekaligus. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—kali ini bukan hanya julukan, tapi mantra. Karena saat Luís Tanadi menempatkan gelas di meja, ia tidak meletakkannya sembarangan. Ia memutar gelas sejauh 15 derajat ke kiri, lalu mengetuk dasar gelas tiga kali dengan ujung jari manisnya. Tanda itu dikenali oleh Xiao Mei. Ia langsung berbalik, mengambil sebuah kotak kayu kecil dari rak di belakang kasir, dan membukanya perlahan. Di dalamnya bukan uang atau senjata—tapi sebuah foto lama, berbingkai kuning pudar, menampilkan seorang pria berusia 30-an bersama seorang wanita berkerudung merah, dan seorang anak kecil yang tersenyum lebar. Di sudut kanan bawah foto, tertulis tangan: ‘Untuk Anakku, Jika Suatu Hari Kau Datang.’ Luís Tanadi tidak melihat foto itu. Tapi ia tahu. Ia tahu karena napasnya berubah—menjadi lebih dalam, lebih lambat. Wajahnya yang tadi tenang kini sedikit berkedut di sudut mata. Ia menoleh ke arah Xiao Mei, dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Bukan senyum lebar, bukan senyum sinis—tapi senyum yang lahir dari rasa syukur yang tertahan selama puluhan tahun. Sementara itu, Wang Daqiang mulai gelisah. Ia menggerakkan tangan kanannya ke arah pinggang, seolah mencari sesuatu yang tidak ada. Di belakangnya, dua pria berjas hitam mulai bergerak maju, langkah mereka ringan tapi pasti. Namun sebelum mereka sempat mendekat, pintu kembali terbuka—kali ini dengan suara dentuman keras. Seorang pria berpeci hitam, kacamata tipis, dan jas tradisional Cina berwarna hitam pekat masuk, diikuti empat orang berseragam hitam lengkap dengan senjata laras panjang. Mereka tidak berteriak, tidak mengancam. Mereka hanya berdiri di ambang pintu, seperti bayangan yang tiba-tiba muncul dari balik kabut. Pria berpeci itu adalah Master Chen—bukan nama panggilan, tapi gelar yang diberikan oleh mereka yang tahu bahwa ia bukan sekadar pengurus keamanan, melainkan ‘penyeimbang’ dalam dunia yang penuh kebohongan. Ia tidak melihat Wang Daqiang. Ia langsung menatap Luís Tanadi, lalu mengangguk pelan. Satu anggukan. Cukup untuk membuat seluruh ruangan berhenti berdetak. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—kata-kata itu kini bergema di benak Xiao Mei, bukan sebagai ejekan, tapi sebagai pengingat: bahwa di balik setiap senyum, ada luka; di balik setiap kekuasaan, ada ketakutan; dan di balik setiap pertemuan yang tampak kebetulan, ada rencana yang disusun selama bertahun-tahun. Luís Tanadi bukan datang untuk makan. Ia datang untuk mengambil kembali apa yang pernah diambil darinya: identitasnya, keluarganya, dan masa depan yang dicuri saat ia masih kecil. Dan saat ia berdiri, mengambil botol bir hijau, lalu menuangkan isinya ke dalam mangkuk kecil berisi saus kuning—campuran yang aneh, tidak lazim—semua orang menyadari: ini bukan makan malam. Ini adalah ritual. Ritual pembukaan kembali pintu waktu. Xiao Mei menggenggam foto itu erat-erat, sementara Xiao Lan mulai menangis diam-diam, tangannya menutupi mulut agar tidak mengeluarkan suara. Wang Daqiang akhirnya berbicara, suaranya parau: “Kau pikir kau bisa datang seperti ini… dan mengambil semuanya?” Luís Tanadi tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, lalu mengangkat mangkuk kecil itu, dan meminumnya habis—dalam satu teguk. Wajahnya tidak berubah. Tapi matanya… matanya berubah. Menjadi lebih gelap, lebih dalam, seperti lubang hitam yang menelan cahaya. Detik berikutnya, lampu utama padam. Hanya lampu darurat berwarna merah yang menyala, memberi siluet pada setiap wajah yang kini penuh ketakutan atau kekaguman. Di tengah kegelapan, terdengar suara klik—seperti pelatuk senjata yang dimuat ulang. Tapi tidak ada tembakan. Hanya suara kayu berderak saat dua pria mengangkat bangku panjang, siap dilemparkan. Xiao Mei berteriak pelan: “Jangan!” Tapi suaranya tenggelam dalam gemuruh napas yang tak teratur. Lalu, dari kejauhan, terdengar suara motor. Satu. Dua. Tiga. Lampu sorot menyilaukan menerobos jendela kaca buram. Dan di tengah kekacauan itu, Luís Tanadi berbisik pada dirinya sendiri—atau mungkin pada roh ayahnya yang tak pernah ia kenal: “Aku kembali, Ayah. Dan kali ini… aku tidak akan pergi lagi.” Menyalalah, Ibu Agen Spesial—kata-kata itu kini bukan lagi sindiran. Ia adalah janji. Janji bahwa kebenaran, bagaimanapun tertutupnya, akan muncul pada waktunya. Bahwa anak yang hilang akan menemukan jalannya pulang. Dan bahwa di sebuah restoran kecil di pinggir kota, malam ini bukan akhir—tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan oleh siapa pun di ruangan itu.