PreviousLater
Close

Menyalalah, Ibu Agen Spesial Episode 49

like4.4Kchaase22.2K

Racun Misterius dan Ancaman Orang Dona

Angel mengetahui bahwa putrinya, Siska, telah diracuni oleh Orang Dona dengan cacing racun yang akan menggerogoti jantungnya dalam tujuh hari jika tidak segera diobati. Angel harus menemukan cara untuk menyelamatkan putrinya sambil menghadapi ancaman dari organisasi penjahat tersebut.Bisakah Angel menyelamatkan Siska sebelum cacing racun itu menghabisi nyawanya?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Ketika Rumah Sakit Menjadi Medan Pertempuran Tak Kasat Mata

Kalau kamu berpikir rumah sakit itu tempat steril, penuh disinfektan dan protokol ketat—coba tonton ulang adegan ketika Ibu Chen memasuki ruang rawat inap nomor 307. Bukan dengan kartu identitas, bukan dengan surat rujukan, tapi dengan langkah yang begitu tenang hingga lampu di koridor berkedip seirama napasnya. Gedung rumah sakit di Kota Hana memang megah, bercahaya merah di malam hari seperti lambang kehidupan yang tak pernah tidur. Tapi di balik jendela-jendela yang terang, ada ruang-ruang gelap yang bahkan sistem keamanan tercanggih sekalipun tidak bisa merekam. Di situlah Menyalalah, Ibu Agen Spesial beroperasi—bukan sebagai penjahat, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai *penyeimbang*, orang yang memastikan bahwa kematian tidak datang sebelum waktunya, dan kehidupan tidak dipaksakan melebihi batasnya. Lin Xiaoyue, pasien muda dengan rambut hitam lebat dan pipi yang masih muda meski pucat, bukanlah kasus biasa. Dokter muda yang memeriksanya—sebut saja Perawat Li—melihat hasil CT scan normal, tekanan darah stabil, tapi ekspresi wajah pasien… aneh. Seperti orang yang sedang bermimpi buruk, tapi matanya tertutup rapat, tidak berkedip selama 47 detik berturut-turut. Itu bukan tidur. Itu *penguncian*. Dan Ibu Chen tahu itu sejak langkah pertamanya memasuki ruangan. Ia tidak menyentuh alat medis, tidak membaca rekam medis. Ia hanya berdiri di sisi ranjang, menatap Lin Xiaoyue, lalu berbisik: ‘Kamu sudah lama di sana, bukan? Di balik tirai hitam itu.’ Adegan berikutnya adalah yang membuat penonton menahan napas: Lin Xiaoyue tiba-tiba menggeliat, lengan kanannya bergetar, lalu kulitnya berubah transparan sejenak—dan di bawahnya, terlihat garis-garis merah menyala seperti jalur listrik yang rusak. Bukan efek CGI murahan, tapi animasi yang sangat detail, seolah darah di pembuluhnya sedang berusaha *mengirim sinyal darurat*. Ibu Chen segera memegang pergelangan tangan itu, dan dalam satu gerakan cepat, ia menarik sesuatu dari dalam kulit Lin Xiaoyue—bukan jarum, bukan kabel, tapi *benang hitam* yang berkilau seperti sutra dari neraka. Benang itu bergetar, mengeluarkan asap tipis, dan saat Ibu Chen menggulungnya di jari, api kecil muncul—bukan dari luar, tapi dari dalam benang itu sendiri. Ia menatap api itu, lalu meniupnya perlahan. Api padam. Benang lenyap. Dan Lin Xiaoyue menghela napas panjang, seolah baru bangun dari mimpi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Di sini, kita mulai memahami bahwa penyakit Lin Xiaoyue bukan karena virus atau genetik. Ia terkena *ikatan siluman*, ritual kuno yang digunakan untuk ‘menyimpan’ seseorang di antara dua dunia—hidup dan mati—agar tidak bisa dijemput oleh pihak mana pun. Dan siapa yang melakukan itu? Guo Wei, pria berpeci hitam yang datang dengan wajah penuh kepanikan, tapi matanya dingin seperti es. Ia bukan suami. Ia adalah *pemegang kunci kedua*, orang yang bertanggung jawab menjaga agar Lin Xiaoyue tetap ‘tertunda’ sampai waktu yang tepat. Tapi sesuatu salah. Ritual itu mulai longgar. Dan Ibu Chen—yang datang tanpa diundang—adalah satu-satunya yang bisa memperbaikinya… atau menghancurkannya sepenuhnya. Pertemuan di koridor bukan sekadar dialog. Itu adalah duel tanpa senjata. Guo Wei berbicara dengan nada rendah: ‘Kamu tahu konsekuensinya jika dia bangun sekarang.’ Ibu Chen tersenyum, lalu mengangkat jari tengahnya—bukan sebagai ejekan, tapi sebagai *simbol pengaktifan*. Di ujung jarinya, bekas abu dari benang hitam masih menempel, dan saat ia menggerakkan jari itu, bayangan di dinding berubah bentuk: menjadi siluet seorang wanita tua dengan tongkat bambu, lalu berubah lagi menjadi pintu kayu berukir naga. Guo Wei menelan ludah. Ia tahu artinya. Itu adalah tanda bahwa *Pintu Pertama* sudah dibuka. Dan jika Pintu Pertama dibuka, maka Pintu Kedua tidak bisa ditahan lebih lama. Yang paling menarik bukan aksi magisnya, tapi cara Ibu Chen memperlakukan Lin Xiaoyue. Ia tidak mengobati. Ia *membimbing*. Saat Lin Xiaoyue akhirnya membuka mata, bukan dengan teriakan atau air mata, tapi dengan tatapan yang dalam—seperti orang yang baru saja kembali dari perjalanan jauh—Ibu Chen tidak langsung memberi penjelasan. Ia hanya meletakkan tangan di dada Lin Xiaoyue, lalu berbisik: ‘Dengarkan. Jantungmu berdetak bukan karena oksigen. Tapi karena *nama* yang kau lupakan.’ Dan Lin Xiaoyue, dengan suara serak, mengucapkan satu kata: ‘Meng…’ Lalu berhenti. Matanya membesar. Ia ingat. Dan di saat itu, lampu di ruangan berkedip tiga kali—sinyal bahwa *mereka* sudah tahu. Menyalalah, Ibu Agen Spesial bukan tokoh fiksi yang dibuat untuk sensasi. Ia adalah representasi dari tradisi yang masih hidup di balik modernitas—orang-orang yang tahu bahwa tidak semua penyakit bisa diukur dengan termometer, dan tidak semua kesembuhan bisa ditulis dalam resep obat. Ia hadir ketika ilmu kedokteran berhenti, bukan untuk menggantikannya, tapi untuk mengingatkan: manusia bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa yang punya sejarah, utang, dan janji yang belum ditepati. Adegan penutup menunjukkan Ibu Chen berjalan keluar rumah sakit, tanpa pamit, tanpa melihat ke belakang. Di tangannya, ada amplop kecil bersegel lilin merah. Di dalamnya, bukan surat, tapi *sehelai rambut* Lin Xiaoyue yang dipotong saat ia masih kecil—rambut yang digunakan untuk ritual pengikatan. Ia melemparkannya ke dalam tong sampah di sudut parkir. Tapi sebelum amplop menyentuh dasar tong, api kecil muncul dari dalamnya, membakar segel, lalu menghilang tanpa asap. Di kejauhan, Lin Xiaoyue berdiri di jendela kamar, memandang Ibu Chen pergi. Di lehernya, kalung perak mulai bercahaya redup. Dan di lantai bawah, Guo Wei membuka brankas besi, mengambil sebuah buku tua berjudul *Catatan Pintu Kedua*, lalu membukanya di halaman yang tertulis: ‘Jika Ibu Chen datang, maka waktu telah habis. Siapkan altar. Dan jangan biarkan dia berbicara dengan dia lebih dari tiga kalimat.’ Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi satu hal pasti: Menyalalah, Ibu Agen Spesial tidak bekerja sendiri. Ia adalah bagian dari jaringan yang lebih besar, lebih tua, dan lebih rahasia daripada yang bisa dibayangkan. Dan Lin Xiaoyue? Ia bukan korban. Ia adalah *kunci*. Dan kunci itu baru saja mulai berputar.

Menyalalah, Ibu Agen Spesial: Darah Hitam di Ujung Jari yang Mengubah Nasib Pasien

Bayangkan suasana malam di Kota Hana, gedung rumah sakit bercahaya redup dengan neon merah bertuliskan ‘Rumah Sakit Rakyat’—sebuah simbol kepercayaan publik, tempat harapan dan ketakutan bertemu. Namun dalam kegelapan itu, ada sesuatu yang tak terlihat oleh kamera CCTV, tak tercatat dalam rekam medis, dan tak diantisipasi oleh perawat muda yang membawa klipboard dengan ekspresi profesional namun sedikit cemas. Di ruang rawat inap nomor 307, seorang pasien muda bernama Lin Xiaoyue terbaring lemah, napasnya tidak stabil, kulitnya pucat dengan bercak merah di pipi—tanda-tanda keracunan atau gangguan saraf? Bukan begitu. Ini bukan kasus medis biasa. Ini adalah awal dari pertunjukan yang lebih gelap, lebih personal, dan lebih memilukan daripada diagnosis apa pun. Menyalalah, Ibu Agen Spesial—begitulah orang-orang mulai menyebutnya setelah insiden itu. Wanita berpakaian hitam tradisional dengan rambut terikat rapi, lengan baju menghiasi motif naga emas yang tampak seperti hidup saat ia bergerak. Namanya tidak disebut langsung di layar, tapi dari percakapan singkat di koridor, kita tahu ia dipanggil ‘Ibu Chen’. Ia bukan dokter, bukan perawat, bukan keluarga. Ia datang tanpa janji, tanpa izin, hanya dengan tas kulit tua dan tatapan yang seolah bisa membaca nasib seseorang dari garis telapak tangan. Saat perawat muda itu berlalu, Ibu Chen berdiri diam di sisi ranjang, menatap Lin Xiaoyue yang mulai menggeliat—bukan karena kesadaran, tapi karena sesuatu yang *menggerakkan* dari dalam tubuhnya. Detik-detik berikutnya adalah yang paling menegangkan dalam seluruh episode. Lin Xiaoyue membuka matanya—bukan dengan pelan, tapi dengan kejutan ekstrem, pupil melebar, mulut terbuka lebar seolah menelan udara yang tak ada. Ia tidak bersuara, hanya menghirup dalam-dalam, lalu tiba-tiba batuk. Dan dari mulutnya, bukan dahak, bukan darah… tapi *serpihan hitam*, seperti abu yang masih menyala di ujung jari. Ibu Chen tidak mundur. Ia maju, tangannya cepat, menggenggam pergelangan tangan Lin Xiaoyue—dan di sana, di kulit putih yang lembut, muncul tulisan bercahaya merah menyala: ‘Jangan biarkan dia tidur lagi’. Tulisan itu bukan tinta, bukan proyeksi. Ia berkedip seperti nyala lilin, lalu menghilang perlahan, meninggalkan bekas hangus kecil yang berbentuk karakter kuno. Menyalalah, Ibu Agen Spesial benar-benar bukan sekadar legenda kota. Ia adalah penjaga ambang antara dunia nyata dan yang lain—tempat penyakit bukan hanya fisik, tapi juga spiritual, warisan, atau kutukan yang diturunkan. Yang paling mencengangkan bukan aksinya, tapi cara ia *menyentuh* Lin Xiaoyue. Bukan dengan belas kasihan, bukan dengan kekhawatiran, tapi dengan kepastian. Seperti seorang tukang kayu yang tahu tepat di mana retakan akan muncul sebelum pohon roboh. Ia mengambil serpihan hitam itu, menggulungnya di ujung jari, lalu mengangkatnya ke depan wajahnya—dengan ekspresi yang campuran antara jijik, penasaran, dan… puas. Api kecil menyala di tengah abu itu, lalu padam. Ia menelan serpihan itu. Ya, benar-benar menelannya. Tidak ada ekspresi mual, tidak ada rasa sakit. Hanya kedipan mata, lalu senyum tipis yang membuat bulu kuduk penonton berdiri. Apa yang baru saja terjadi? Apakah ia menyerap racun itu? Atau justru *mengembalikan* sesuatu yang dicuri dari Lin Xiaoyue? Di luar ruangan, suasana berubah drastis. Seorang pria berpeci hitam dan kacamata, bernama Guo Wei—suami Lin Xiaoyue, atau setidaknya yang mengaku demikian—berlari masuk, diikuti dua pria besar yang tampak seperti pengawal. Wajahnya penuh kepanikan, tapi bukan karena khawatir pada istri. Matanya mencari *Ibu Chen*. Saat mereka bertemu di koridor, tidak ada salam, tidak ada pertanyaan. Guo Wei langsung menghentikan langkahnya, suaranya bergetar: ‘Kamu tidak seharusnya di sini.’ Ibu Chen hanya tersenyum, lalu berkata pelan: ‘Dia sudah mulai mengingat. Kamu pikir kunci di brankas lantai bawah cukup untuk menyembunyikan semuanya?’ Kalimat itu seperti pisau yang menusuk diam-diam. Guo Wei berkedip dua kali, lalu wajahnya berubah—dari panik menjadi dingin, dari suami yang cemas menjadi sosok yang *tahu*. Ia menatap Ibu Chen dengan cara yang sama seperti orang melihat musuh lama yang akhirnya ditemukan kembali. Di sini, kita mulai memahami bahwa Lin Xiaoyue bukan korban sembarangan. Ia adalah keturunan dari keluarga tertentu—keluarga yang pernah menjaga ‘Pintu Kedua’, sebuah ritual kuno yang menghubungkan dunia hidup dan mati melalui darah dan ingatan. Dan Guo Wei? Ia bukan suami. Ia adalah *penjaga kunci*, orang yang ditugaskan untuk memastikan rahasia itu tetap terkubur. Tapi Lin Xiaoyue mulai bangun—not only physically, but *spiritually*. Dan Ibu Chen adalah satu-satunya yang bisa membimbingnya melewati transisi itu tanpa kehilangan jiwa. Adegan berikutnya adalah yang paling simbolis: Ibu Chen berjongkok di samping ranjang, memegang tangan Lin Xiaoyue yang kini mulai bergetar. Di lengan pasien, tulisan merah muncul lagi—kali ini lebih banyak, lebih panjang: ‘Mereka datang dari bawah. Jangan buka pintu biru.’ Lalu, secara ajaib, Lin Xiaoyue membuka mata—bukan dengan kekacauan, tapi dengan kejelasan yang menakutkan. Ia menatap Ibu Chen, lalu berbisik: ‘Kamu… bukan dari sini, bukan?’ Ibu Chen mengangguk pelan. ‘Aku dari tempat yang sama dengan ibumu. Dan aku datang karena dia memanggilmu dalam mimpi kemarin.’ Ini bukan drama medis. Ini bukan thriller psikologis biasa. Ini adalah *ritual penyembuhan yang dilarang*, dimainkan di tengah ruang rawat inap modern, di mana monitor jantung berdetak seirama dengan mantra kuno yang diucapkan dalam hati. Setiap gerak Ibu Chen—cara ia melipat jari, cara ia menatap langit-langit, bahkan cara ia menghela napas—adalah bagian dari tarian yang telah dipelajari selama puluhan tahun. Dan Lin Xiaoyue? Ia bukan pasien. Ia adalah *wadah*, dan tubuhnya sedang dipersiapkan untuk menerima kembali apa yang pernah diambil darinya. Menyalalah, Ibu Agen Spesial tidak hanya hadir untuk menyelamatkan nyawa. Ia hadir untuk memulihkan *identitas*. Dalam dunia di mana teknologi medis bisa memperpanjang hidup, tapi tidak bisa mengembalikan ingatan yang dihapus oleh trauma atau sihir, ia adalah satu-satunya yang masih percaya bahwa manusia bukan hanya organ dan sel—tapi juga cerita, janji, dan dosa yang belum diselesaikan. Adegan terakhir menunjukkan Ibu Chen berdiri di jendela, memandang gedung rumah sakit dari luar, sementara di dalam, Lin Xiaoyue duduk tegak di ranjang, memegang kalung perak tua yang tiba-tiba muncul di lehernya—kalung yang tidak ada di awal adegan. Di latar belakang, suara detak jam berhenti selama tiga detik. Dan kita tahu: ini baru permulaan. Pintu biru belum dibuka. Dan Guo Wei? Ia berdiri di ujung koridor, memegang ponsel, mengirim pesan satu baris: ‘Dia sudah bangun. Siapkan ruang bawah.’ Kita tidak tahu apa yang ada di balik pintu biru. Tapi satu hal pasti: Menyalalah, Ibu Agen Spesial tidak akan pergi sampai semua utang diselesaikan. Dan Lin Xiaoyue, dengan mata yang kini berwarna keemasan samar, mulai tersenyum—bukan senyum pasien yang sembuh, tapi senyum orang yang akhirnya *ingat siapa dirinya sebenarnya*.