PreviousLater
Close

Yang Terkasih Episode 10

like3.3Kchaase8.9K

Yang Terkasih

Liana Malik dikhianati oleh pacar dan sahabat baiknya, seluruh tabungan dan rumah satu-satunya dirampas, dia jatuh ke dalam jurang kesengsaraan. Namun, takdir menyiapkan pembalasan yang luar biasa, Liana Malik ternyata adalah putri keluarga terkaya yang hilang. Tiga saudara kandungnya berusaha keras untuk menemukan Liana, dan menggunakan berbagai cara untuk memberi pelajaran kepada semua yang menindas adik mereka.
  • Instagram

Ulasan episode ini

Yang Terkasih: Saat Lantai Marmer Menjadi Cermin Jiwa

Ada satu adegan dalam Yang Terkasih yang tak akan pernah terlupakan: Lin Xiao duduk di lantai marmer, rok putihnya terlipat tak rapi, sepatu hak hitam-putihnya terlepas sebelah, dan air mata mengalir tanpa suara—bukan karena ia menangis keras, tapi karena ia menahan semua suara itu di dalam dada, seperti orang yang sudah terlalu sering dipaksa diam. Lantai marmer itu bukan hanya permukaan keras; ia adalah cermin yang memantulkan kehinaan, kebingungan, dan kelelahan jiwa Lin Xiao. Setiap refleksi di permukaannya menunjukkan bayangan orang-orang yang berdiri di atasnya: Chen Yu dengan gaun biru berkilau, tangan memegang gelas anggur seolah sedang menikmati pertunjukan; pria dalam jas hitam yang berdiri di sampingnya, wajahnya datar, tapi matanya menyimpan kepuasan yang sulit disembunyikan; dan wanita dalam jaket bulu abu-abu yang berbisik pada pria di sebelahnya—mereka semua adalah bagian dari sistem yang telah lama mengucilkan Lin Xiao, bukan karena kesalahannya, tapi karena ia menolak untuk bermain peran yang telah ditentukan. Yang Terkasih bukan sekadar judul drama—ia adalah label yang dilekatkan pada Lin Xiao oleh lingkungan sosialnya, seolah-olah cinta dan penghargaan adalah hadiah yang hanya diberikan kepada mereka yang patuh. Tapi lihatlah bagaimana Lin Xiao, meski terjatuh, tetap memandang ke atas dengan mata yang tidak sepenuhnya pasrah. Di situlah letak kekuatannya: ia tidak menyerah pada narasi yang dibangun orang lain. Ia mungkin tidak bisa berdiri sendiri saat itu, tapi ia tidak meminta izin untuk bangkit. Ia hanya menunggu momen yang tepat—dan momen itu datang ketika pria dalam mantel krem muncul dari mobil hitam di luar gedung. Bukan karena ia datang sebagai pahlawan, tapi karena kehadirannya mengganggu keseimbangan kekuasaan yang telah lama terbangun. Perhatikan cara kamera mengikuti langkahnya: pelan, stabil, tanpa efek dramatis berlebihan—seolah ia bukan tokoh baru, tapi kehadiran yang seharusnya sudah ada sejak awal. Ekspresi wajahnya tidak penuh kemarahan, tapi keheranan yang dalam, seolah ia baru menyadari betapa rusaknya dinamika di dalam ruangan itu. Dan ketika ia berhenti di ambang pintu, menatap Lin Xiao yang masih duduk di lantai, kita bisa merasakan detak jantung yang berbeda—bukan detak jantung pahlawan penyelamat, tapi detak jantung seseorang yang akhirnya menemukan bukti bahwa apa yang ia dengar selama ini tentang Lin Xiao adalah kebohongan. Yang Terkasih bukan tentang siapa yang dicintai, tapi tentang siapa yang berani mengatakan 'tidak' pada kebohongan kolektif. Chen Yu, dengan semua keanggunannya, sebenarnya sangat takut—takut pada kebenaran yang tak bisa dibungkus dengan kata-kata manis. Ia tersenyum lebar ketika Lin Xiao jatuh, tapi di balik senyum itu, matanya berkedip cepat, tanda ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Dan pria dalam jas hitam? Ia bukan sekadar pengawal—ia adalah simbol dari struktur kekuasaan yang mendukung Chen Yu. Ia tidak pernah berbicara banyak, tapi setiap gerakannya—cara ia memegang lengan Chen Yu, cara ia menatap Lin Xiao dari sudut mata—semuanya menyampaikan satu pesan: 'Kamu tidak penting di sini.' Namun, Yang Terkasih mengajarkan kita bahwa kepentingan bukan ditentukan oleh suara terkeras atau gaun termewah, tapi oleh ketahanan seseorang untuk tetap eksis meski dunia berusaha menghapusnya. Adegan ketika Lin Xiao akhirnya berdiri, tangan masih gemetar, tapi pandangannya tidak lagi kabur—itu adalah momen transformasi yang halus namun dahsyat. Ia tidak berteriak, tidak menuduh, tidak memohon. Ia hanya berdiri, lalu melangkah perlahan menuju pintu, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku. Dan di saat itulah, kita menyadari: bukan Chen Yu yang memenangkan pertempuran hari ini—tapi Lin Xiao, karena ia berhasil menjaga dirinya utuh di tengah upaya penghancuran sistematis. Yang Terkasih bukan kisah cinta yang manis, tapi kisah tentang bagaimana seseorang belajar mencintai dirinya sendiri ketika dunia menolak untuk melihatnya. Dan itulah yang membuat drama ini begitu menyakitkan sekaligus membebaskan: ia tidak memberi solusi instan, tapi ia memberi kita harapan—bahwa bahkan di tengah lantai marmer yang dingin dan hati manusia yang beku, masih ada ruang untuk kebangkitan yang diam, tapi tak terbendung.

Yang Terkasih: Ketika Gaun Biru Menjadi Senjata

Dalam adegan yang memukau di ruang pesta mewah berlantai marmer, kita disuguhkan pada sebuah konflik sosial yang bukan sekadar pertengkaran—ini adalah pertunjukan kekuasaan emosional yang dipentaskan dengan presisi teatrikal. Perhatikan bagaimana Lin Xiao, dengan gaun putihnya yang polos namun elegan, berdiri di tengah kerumunan seperti seorang korban yang tak bersalah—namun justru menjadi pusat perhatian karena kelemahannya yang dipaksakan. Rambutnya yang terurai, keringat di dahi, dan ekspresi wajah yang berubah dari bingung ke sedih lalu ke putus asa, semuanya bukan kebetulan. Itu adalah bahasa tubuh yang telah dilatih untuk menyampaikan satu pesan: saya tidak bersalah, tapi saya akan menanggung akibatnya. Di sisi lain, Chen Yu, dengan gaun biru berkilau yang dipenuhi kristal, berdiri tegak, tangan saling melingkar di depan dada, senyumnya tipis namun penuh makna—sebuah senyum yang tidak menyentuh mata, hanya menghiasi bibir sebagai bentuk penghinaan halus. Ia tidak perlu berteriak; kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Lin Xiao terjatuh ke lantai, bukan karena dorongan fisik, tapi karena tekanan psikologis yang dibangun selama bertahun-tahun dalam lingkaran sosial mereka. Yang Terkasih bukan hanya judul drama ini—ia adalah julukan ironis yang diberikan kepada Lin Xiao oleh orang-orang di sekitarnya, seolah-olah cinta atau kasih sayang adalah sesuatu yang bisa diberikan atau dicabut sesuai keinginan sang pemberi kuasa. Tapi siapa sebenarnya Yang Terkasih? Apakah itu Lin Xiao, yang terus-menerus mengulurkan tangan dengan harapan dipeluk kembali? Atau Chen Yu, yang dengan dingin mengatur narasi agar semua orang percaya bahwa Lin Xiao-lah yang salah? Adegan ketika Lin Xiao merayap di lantai, tangannya menyentuh permukaan marmer yang dingin, sementara kaki-kaki tamu lain berdiri mengelilinginya seperti penonton di arena gladiator, adalah momen paling menyakitkan dalam episode ini. Tidak ada yang membantunya bangkit—bahkan pria dalam jas hitam yang berdiri di samping Chen Yu hanya mengangkat alis, lalu mengalihkan pandangan. Itu bukan kekejaman biasa; itu adalah kolusi diam-diam dari seluruh kelompok, yang lebih memilih stabilitas ilusi daripada kebenaran yang mengganggu. Dan lihatlah saat Chen Yu berbicara—suaranya lembut, nada rendah, tapi setiap kata seperti pisau kecil yang menusuk pelan-pelan. Ia tidak mengatakan 'kamu bodoh' atau 'kamu tidak pantas di sini'. Ia berkata, 'Aku hanya ingin kamu bahagia', sambil menatap Lin Xiao dengan ekspresi iba yang palsu. Itulah kejahatan modern: kekejaman yang dibungkus dalam belas kasihan. Yang Terkasih bukan tentang cinta, tapi tentang kontrol. Setiap detail kostum, pencahayaan biru-redup di latar belakang, hingga posisi kamera yang sering kali menempatkan Lin Xiao dari sudut rendah, semuanya bekerja bersama untuk menciptakan hierarki visual yang tak terbantahkan. Bahkan ketika ia akhirnya berdiri kembali, tubuhnya gemetar, napasnya tidak stabil, dan tangannya masih terulur—bukan untuk meminta maaf, tapi untuk memohon pengakuan: 'Aku masih di sini. Aku masih manusia.' Namun, di luar ruangan, ketika pria dalam mantel krem muncul dari mobil hitam, wajahnya datar, mata tajam, dan langkahnya pasti—kita tahu: ini bukan akhir. Ini adalah awal dari bab baru dalam permainan kekuasaan yang lebih besar. Siapa dia? Apakah ia datang untuk menyelamatkan Lin Xiao? Atau justru menjadi pemain baru yang akan menggeser posisi Chen Yu? Yang Terkasih tidak memberi jawaban langsung—ia membiarkan penonton merenung, merasa tidak nyaman, dan terus menonton karena rasa penasaran yang tak tertahankan. Karena dalam dunia ini, kebenaran bukan milik siapa pun—ia hanya milik mereka yang berani mengambilnya. Dan Lin Xiao, meski jatuh berkali-kali, masih belum melepaskan genggamannya pada harapan. Itulah yang membuat kita terus menunggu episode berikutnya: bukan karena kita ingin melihatnya menang, tapi karena kita takut jika suatu hari nanti, ia berhenti berusaha sama sekali.

Si Pria Hitam vs Gaun Biru Berkilau: Pertarungan Ego yang Tak Terucap

Dia diam, dia tersenyum, dia menatap—namun setiap gerakannya menyiratkan 'aku tidak peduli'. Sementara Lin Mei dengan gaun birunya terlihat seperti bintang, tetapi matanya kosong. Yang Terkasih berhasil membuat kita bertanya: siapa sebenarnya yang jatuh? Bukan di lantai, melainkan di hati. 🌊

Drama di Lantai Marmer yang Membuat Sedih

Adegan Jiaxin jatuh di tengah pesta, dikelilingi orang-orang yang justru tertawa atau diam—ini bukan kecelakaan, ini panggung kekejaman sosial. Yang Terkasih memang tidak memerlukan dialog panjang: ekspresi mata, gerakan tangan, dan lantai marmer yang mencerminkan kesedihan, sudah cukup menusuk hati. 💔 #JiaxinTersakiti