PreviousLater
Close

Yang Terkasih Episode 64

like3.3Kchaase8.9K

Pengakuan Cinta yang Terpendam

Liana Malik menghadapi konflik batin ketika seseorang yang dekat dengannya mengungkapkan perasaan cinta yang sebenarnya, menanyakan apakah dia benar-benar ingin menikah dengan pria lain dan meminta untuk lebih berani dalam mengungkapkan perasaan.Akankah Liana memilih untuk mengikuti kata hatinya atau tetap melanjutkan pernikahannya dengan pria lain?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Yang Terkasih: Malam yang Penuh Pesan Tak Terkirim

Kita sering mengira bahwa cinta modern itu mudah: cukup kirim pesan, kirim foto, kirim voice note—dan masalah selesai. Tapi dalam adegan malam yang penuh ketegangan dari serial Yang Terkasih, kita disuguhkan realitas yang jauh lebih rumit. Lin Xiao, seorang wanita muda dengan rambut panjang hitam dan mata yang selalu terlihat lelah meski belum tidur, terbaring di ranjangnya, memegang ponsel seperti memegang sebuah bom waktu. Layar menyala, menampilkan percakapan dengan Mu Chen—nama yang muncul di daftar kontak dengan label ‘Yang Terkasih’, sebuah julukan yang kini terasa seperti beban, bukan kehangatan. Ia mengetik, menghapus, mengetik ulang. Setiap huruf yang ia ketik adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan sesuatu yang mungkin sudah terlalu jauh untuk diselamatkan. Adegan ini dimulai dengan suasana kamar yang tenang, tapi penuh tekanan. Lampu meja menyala redup, tirai tertutup rapat, dan di latar belakang terdengar suara detak jam dinding yang terasa sangat keras di tengah keheningan. Lin Xiao mengenakan sweater rajut bergaris hitam-putih, model yang ia beli sendiri setelah Mu Chen mengatakan bahwa warna itu cocok dengan matanya. Sekarang, sweater itu terasa seperti kenangan yang mengganggu. Ia mengetik: ‘Kamu tidak menjawab sejak siang.’ Lalu menghapusnya. Menggantinya dengan: ‘Apa aku salah?’—tapi ia berhenti, karena tahu bahwa menggunakan bahasa Mandarin di tengah percakapan berbahasa Mandarin pun bisa terasa seperti serangan jika dikirim dengan nada yang salah. Ia akhirnya memilih: ‘Aku khawatir.’ Satu kalimat. Dua kata. Tapi rasanya seperti melempar batu ke dalam sumur yang dalam—tidak tahu kapan akan sampai, atau bahkan apakah akan sampai sama sekali. Kamera bergerak pelan, menangkap ekspresi wajahnya yang berubah setiap kali ia melihat layar. Mata yang awalnya penuh harap, perlahan menjadi kosong. Bibirnya menggigit bawah, tanda stres yang ia coba sembunyikan. Di jari kirinya, cincin kecil berbentuk bulan sabit—lagi-lagi hadiah dari Mu Chen, saat mereka masih percaya bahwa cinta bisa mengatasi segalanya. Sekarang, cincin itu terasa seperti pengingat akan janji yang belum ditepati. Ia mengetik lagi: ‘Aku tidak minta kamu menjawab sekarang. Tapi aku butuh tahu bahwa kamu masih di sana.’ Lalu ia menekan kirim. Tunggu. Tunggu. Tidak ada apa-apa. Hanya lingkaran loading yang berputar, seakan waktu pun enggan bergerak. Di sisi lain kamar, Mu Chen duduk di ujung ranjang, memegang ponselnya dengan erat. Wajahnya terang oleh cahaya layar, mata yang biasanya tajam kini terlihat lelah. Ia membaca pesan dari Lin Xiao, lalu mengetik balasan: ‘Aku sedang sibuk.’ Tapi ia menghapusnya. Lalu: ‘Aku butuh ruang.’ Masih dihapus. Akhirnya, ia mengetik: ‘Aku baik.’ Dan mengirim. Tidak ada penjelasan, tidak ada pelukan virtual, tidak ada ‘sayang’ di akhir. Hanya ‘aku baik’. Sebuah kalimat yang dalam konteks ini bukan jawaban, tapi pelarian. Mu Chen bukan orang jahat. Ia hanya manusia yang sedang berjuang dengan beban yang tidak bisa ia bagikan—mungkin pekerjaan, mungkin trauma masa lalu, mungkin rasa bersalah karena tidak bisa menjadi ‘Yang Terkasih’ yang seharusnya. Tapi Lin Xiao tidak tahu itu. Yang ia tahu hanyalah: pesan dikirim, tapi hati tidak sampai. Yang Terkasih bukan drama tentang perselingkuhan atau skandal besar. Ini adalah kisah tentang keheningan yang lebih menyakitkan dari pertengkaran. Tentang dua orang yang masih saling mencintai, tapi sudah kehilangan bahasa untuk mengungkapkannya. Lin Xiao mencoba segalanya: pesan formal, pesan lucu, pesan sedih, bahkan pesan yang pura-pura acuh—semua untuk mendapatkan reaksi. Tapi yang ia dapatkan hanyalah kebisuan. Dan kebisuan itu, dalam dunia digital, adalah bentuk penolakan paling kejam. Karena setidaknya jika ditolak langsung, kita tahu batasnya. Tapi jika tidak ada respons sama sekali? Maka kita terjebak di ruang abu-abu, di mana harapan dan keputusasaan berdampingan, saling mendorong, saling menghancurkan. Adegan ini juga menunjukkan betapa teknologi bisa menjadi alat penyiksaan emosional. Setiap notifikasi yang muncul di layar Lin Xiao bukan lagi kabar gembira, tapi pertanyaan: ‘Apakah ini dia? Apakah ini balasannya?’ Ia bahkan mengecek ulang riwayat chat, mencari pola—apakah ia salah kirim, apakah ada kata yang salah, apakah Mu Chen sedang marah karena sesuatu yang terjadi kemarin. Ia mencoba mengirim emoji hati, lalu menggantinya dengan emoji tertawa, lalu menghapus semuanya. Ini bukan soal cinta yang hilang, tapi soal kepercayaan yang mulai goyah. Dan goyahan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia terjadi pelan, seperti karat di besi—tidak terlihat dari luar, tapi sudah merusak dari dalam. Puncak emosional datang ketika Lin Xiao mengirim pesan terakhir: ‘Kalau kamu benar-benar tidak ingin aku di sini, katakan saja. Aku akan pergi. Tidak akan mengganggu lagi.’ Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel di samping kepala, menutup mata, dan menarik napas dalam-dalam. Detik berlalu. Tidak ada getaran. Tidak ada bunyi. Hanya suara nafasnya yang berat. Lalu, secara perlahan, air mata mengalir—bukan karena marah, tapi karena lelah. Lelah menunggu, lelah berharap, lelah menjadi satu-satunya pihak yang masih berusaha menjaga hubungan ini. Di sudut kamar, botol obat kecil dan gelas air setengah penuh menjadi saksi bisu: ini bukan malam pertama ia begitu. Dan ketika akhirnya Mu Chen mengirim balasan—‘Jangan overthink. Aku hanya butuh waktu.’—Lin Xiao sudah tidak melihatnya. Ia sudah mematikan ponsel, menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Kita tidak tahu apakah ia tidur, atau hanya berpura-pura. Yang kita tahu: malam ini, ‘Yang Terkasih’ bukan lagi tempat ia merasa aman, tapi tempat ia belajar bahwa cinta tidak selalu cukup dengan niat baik—ia butuh keberanian untuk berbicara, bukan hanya mengetik. Drama Yang Terkasih berhasil menangkap kehidupan modern yang penuh dengan ‘komunikasi tanpa kontak’. Kita bisa mengirim seribu pesan dalam sehari, tapi tetap merasa sendiri. Lin Xiao dan Mu Chen adalah cermin dari banyak pasangan di dunia nyata: mereka tinggal dalam satu atap, makan di meja yang sama, tapi jiwa mereka berada di frekuensi yang berbeda. Adegan ini bukan tentang perselisihan besar, tapi tentang keheningan yang lebih keras dari teriakan. Tentang pesan yang dikirim, tapi tidak sampai. Tentang cinta yang masih ada, tapi sudah kehilangan cara untuk berbicara. Dan itulah yang membuat penonton terdiam: bukan karena dramanya berlebihan, tapi karena terlalu nyata. Kita semua pernah menjadi Lin Xiao—mengetik pesan, lalu menghapusnya, lalu menyesal karena tidak mengirimnya. Atau pernah menjadi Mu Chen—membaca pesan, lalu menunda balasan, karena takut kata-kata yang keluar akan menghancurkan segalanya. Yang Terkasih bukan hanya kisah cinta, tapi kisah manusia yang berjuang untuk tetap terhubung di tengah lautan digital yang justru membuat kita semakin terpisah.

Yang Terkasih: Ketika Pesan Tak Sampai, Hati Pun Tertahan

Dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu meja bercahaya lembut, seorang wanita muda bernama Lin Xiao berbaring di atas ranjang putih, tubuhnya tertutup selimut tipis, tangan gemetar memegang ponsel dengan casing transparan yang mengkilap. Di layar, terlihat percakapan dalam aplikasi pesan instan—sebuah ruang digital yang kini menjadi medan perang emosional diam-diam. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu mengirim. Tapi bukan pesan biasa. Ini adalah pesan yang dipenuhi keraguan, harap-harap cemas, dan rasa sakit yang tersembunyi di balik kata-kata yang tampak ringan. ‘Kamu hari ini kenapa?’—begitu ia mulai, lalu berhenti. Jari-jarinya berhenti di atas tombol kirim, seolah takut pada konsekuensi dari satu sentuhan. Dalam adegan ini, kita tidak melihat siapa yang menerima pesan itu, tapi kita tahu: itu adalah Mu Chen, pria yang namanya muncul di daftar kontak sebagai ‘Yang Terkasih’, meski jarak antara mereka kini lebih dari sekadar meteran di kamar tidur yang sama. Lin Xiao bukan tipe perempuan yang mudah menangis di depan orang lain. Namun, dalam kesendirian malam, air mata mengalir pelan, menggantikan suara yang tak mampu keluar. Ekspresi wajahnya berubah dari cemas ke kecewa, lalu ke pasrah—sebuah siklus emosi yang terjadi berulang kali dalam satu jam. Setiap kali ia mengirim pesan, layar menunjukkan ikon ‘sedang dikirim’ dengan lingkaran berputar, seakan waktu pun ikut tertahan bersama harapannya. Ia mencoba lagi: ‘Apakah ada sesuatu yang salah? Aku tidak mengerti.’ Lalu, setelah beberapa detik, ia menambahkan: ‘Aku hanya ingin tahu… apakah kamu masih di sini.’ Kalimat terakhir itu ditulis dengan tangan yang gemetar, dan ketika tombol kirim ditekan, ia menutup matanya sejenak—sebagai bentuk perlindungan diri dari kemungkinan jawaban yang tak diinginkan. Di sudut lain kamar, terlihat meja samping tempat tidur dengan gelas air setengah penuh, botol obat kecil berwarna putih, dan ponsel yang tergeletak dengan layar mati. Semua benda itu seperti saksi bisu dari pertarungan internal Lin Xiao. Gelas air yang belum habis menandakan bahwa ia sudah lama tidak tidur. Botol obat—mungkin untuk insomnia atau kecemasan—menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia mengalami malam seperti ini. Dan ponsel yang tergeletak? Itu milik Mu Chen, yang sedang berada di sisi ranjang yang lain, terpisah oleh jarak dua meter, tapi terasa seperti ribuan kilometer. Kita melihatnya dari sudut pandang pintu terbuka: Mu Chen duduk tegak, memegang ponselnya dengan kedua tangan, wajahnya terang oleh cahaya biru layar. Ia membaca pesan dari Lin Xiao, lalu mengetik balasan. Tapi ia menghapusnya. Dua kali. Tiga kali. Akhirnya, ia mengetik: ‘Aku baik-baik saja.’ Lalu mengirim. Tidak lebih. Tidak kurang. Sebuah kalimat yang terasa dingin di tengah suasana kamar yang hangat. Yang Terkasih bukan hanya judul drama ini—ia adalah julukan yang dipakai Lin Xiao untuk Mu Chen, meski kini julukan itu terasa seperti ironi. Apa arti ‘yang terkasih’ jika komunikasi terhambat oleh ketakutan, jika keintiman digantikan oleh jarak fisik dan emosional? Dalam adegan ini, kita menyaksikan bagaimana teknologi yang seharusnya mempersingkat jarak justru menjadi alat penghalang. Setiap notifikasi yang muncul di layar ponsel Lin Xiao bukan lagi kabar gembira, melainkan pertanyaan tanpa jawaban. Ia mengecek ulang riwayat chat, mencari petunjuk—apakah ada kata yang salah, apakah ia terlalu mendesak, apakah ia salah paham. Ia bahkan mencoba mengirim emoji senyum, lalu menggantinya dengan hati, lalu menghapus semuanya. Ini bukan soal cinta yang hilang, tapi soal kepercayaan yang retak perlahan, seperti retakan di kaca yang masih utuh dari luar, tapi rapuh dari dalam. Kamera sering kali memperbesar detail: ujung jari Lin Xiao yang sedikit pucat karena terlalu lama memegang ponsel, anting bunga mutiara yang ia pakai—hadiah dari Mu Chen di ulang tahun pertama mereka, kini terlihat seperti simbol masa lalu yang tak bisa diulang. Baju rajut bergaris hitam-putih yang ia kenakan adalah pakaian favoritnya saat mereka masih sering bercanda di sofa, sebelum semua berubah. Sekarang, baju itu terasa seperti armor yang rapuh, melindungi tubuhnya dari dingin malam, tapi tidak dari rasa sakit di dada. Puncak adegan ini terjadi ketika Lin Xiao akhirnya mengirim pesan terakhir: ‘Kalau kamu benar-benar ingin aku pergi, katakan saja. Aku tidak akan bertanya lagi.’ Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel di samping kepala, menatap langit-langit, napasnya berat. Detik demi detik berlalu. Tidak ada notifikasi. Tidak ada getaran. Hanya suara nafasnya yang terdengar di keheningan. Lalu, secara perlahan, air mata mengalir lagi—bukan karena marah, tapi karena lelah. Lelah menunggu, lelah berharap, lelah menjadi satu-satunya pihak yang masih berusaha menjaga hubungan ini. Dan di sisi lain, Mu Chen akhirnya mengirim balasan: ‘Jangan pikirkan hal-hal aneh. Aku hanya butuh waktu.’ Tapi Lin Xiao tidak melihatnya. Ia sudah mematikan ponsel, menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Kita tidak tahu apakah ia tidur, atau hanya berpura-pura. Yang kita tahu: malam ini, ‘Yang Terkasih’ bukan lagi tempat ia merasa aman, tapi tempat ia belajar bahwa cinta tidak selalu cukup dengan niat baik—ia butuh keberanian untuk berbicara, bukan hanya mengetik. Drama Yang Terkasih berhasil menangkap kehidupan modern yang penuh dengan ‘komunikasi tanpa kontak’. Kita bisa mengirim seribu pesan dalam sehari, tapi tetap merasa sendiri. Lin Xiao dan Mu Chen adalah cermin dari banyak pasangan di dunia nyata: mereka tinggal dalam satu atap, makan di meja yang sama, tapi jiwa mereka berada di frekuensi yang berbeda. Adegan ini bukan tentang perselisihan besar, tapi tentang keheningan yang lebih keras dari teriakan. Tentang pesan yang dikirim, tapi tidak sampai. Tentang cinta yang masih ada, tapi sudah kehilangan cara untuk berbicara. Dan itulah yang membuat penonton terdiam: bukan karena dramanya berlebihan, tapi karena terlalu nyata. Kita semua pernah menjadi Lin Xiao—mengetik pesan, lalu menghapusnya, lalu menyesal karena tidak mengirimnya. Atau pernah menjadi Mu Chen—membaca pesan, lalu menunda balasan, karena takut kata-kata yang keluar akan menghancurkan segalanya. Yang Terkasih bukan hanya kisah cinta, tapi kisah manusia yang berjuang untuk tetap terhubung di tengah lautan digital yang justru membuat kita semakin terpisah.