PreviousLater
Close

Yang Terkasih Episode 4

like3.3Kchaase8.9K

Misteri Liontin Giok

Liana Malik menemukan desain yang sama dengan emblem keluarga dalam bungkus obat, membuat saudara-saudaranya curiga bahwa dia mungkin adalah Lili yang hilang. Sementara itu, hubungannya dengan Roy dan keluarganya semakin tegang karena perbedaan status sosial.Apakah Liana benar-benar Lili yang hilang, dan bagaimana keluarga Roy akan bereaksi ketika mengetahui identitas sebenarnya?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Yang Terkasih: Ketika Ibu Datang, Semua Rahasia Terbongkar

Di sebuah kota yang dingin namun penuh kehidupan, di depan klinik tradisional yang dindingnya dipenuhi rak kayu berisi laci-laci kecil bertuliskan nama-nama rempah kuno, terjadi sebuah pertemuan yang tidak direncanakan—tapi sudah ditakdirkan. Wang Fang, ibu Li Zexi, muncul dengan senyum yang terlalu sempurna, gaun ungu berhias manik-manik perak di bahu, telinganya menggantungkan mutiara bulat yang berkilau seperti air mata yang ditahan. Ia datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai penilai. Dan yang ia nilai bukan hanya klinik ini, tapi juga seorang wanita muda bernama Meng Xiao, yang berdiri di balik meja resepsionis dengan postur tegak, tangan bersilang, dan kalung giok hijau yang tak pernah lepas sejak pertama kali ia memakainya di hari pertunangan yang batal. Yang Terkasih bukan hanya kisah cinta—ia adalah kisah tentang warisan, tentang bagaimana masa lalu terus mengintai di balik setiap senyum, setiap jabat tangan, setiap bungkusan kertas cokelat yang dibawa oleh Li Zexi. Di awal video, kita melihat Li Zexi berdiri di luar klinik, memegang tumpukan bungkusan itu seperti seorang kurir yang tak tahu harus menyerahkannya kepada siapa. Wajahnya bingung, matanya mencari-cari, dan saat ia melihat Meng Xiao di balik kaca, napasnya berhenti sejenak. Bukan karena rindu—tapi karena ia tahu: ia tidak lagi memiliki hak untuk berdiri di sana sebagai kekasih. Ia hanya seorang pria yang membawa barang-barang, tanpa janji yang masih utuh. Lalu muncul Roy Hali—Pacar Liana Malik, seperti tertulis di layar dengan font berkilau—berjaket kulit hitam, rantai perak di leher, senyumnya lebar tapi tidak menyentuh matanya. Ia berjalan dengan langkah mantap, tangan di saku, seolah dunia ini adalah panggung miliknya. Saat ia menyapa Meng Xiao, ia tidak menyebut namanya langsung. Ia berkata, “Kami dengar klinik ini sangat terkenal dalam hal keseimbangan energi.” Kalimat itu tampak netral, tapi dalam konteks Yang Terkasih, itu adalah tantangan terselubung. Karena klinik ini bukan hanya tempat pengobatan—ia adalah benteng terakhir bagi Meng Xiao untuk mempertahankan identitasnya di tengah tekanan keluarga Li Zexi. Wang Fang, sang ibu, tidak langsung menyapa. Ia menatap Meng Xiao dari ujung ke ujung, lalu menghembuskan napas pelan—seperti orang yang baru saja menemukan petunjuk yang telah lama dicari. Ia tidak marah. Ia tidak menyalahkan. Ia hanya berkata, “Kamu masih memakai giok itu.” Suaranya lembut, tapi setiap kata menusuk seperti jarum akupunktur. Giok hijau itu bukan sekadar perhiasan. Dalam tradisi keluarga Li, giok diberikan hanya kepada calon menantu yang telah disetujui secara resmi. Dan Meng Xiao memakainya meski pertunangan mereka dibatalkan oleh Wang Fang sendiri beberapa bulan lalu. Artinya: Meng Xiao tidak menerima pembatalan itu. Ia masih menganggap dirinya bagian dari keluarga itu—meski keluarga itu sudah menutup pintu di hadapannya. Di sinilah Yang Terkasih menunjukkan kejeniusannya dalam membangun ketegangan tanpa teriakan. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada adegan menangis di hujan. Semua terjadi dalam diam: tatapan Wang Fang yang berpindah dari giok ke wajah Meng Xiao, lalu ke tangan Li Zexi yang masih memegang bungkusan-bungkusan itu seperti seorang anak yang takut dimarahi. Li Zexi mencoba berbicara, tapi suaranya terpotong oleh senyum Roy Hali yang tiba-tiba melebar. “Kalian berdua pasti punya banyak cerita,” katanya, lalu menoleh ke Wang Fang. “Ibu, aku ingat kau pernah bilang, keseimbangan itu bukan soal memilih satu sisi—tapi soal tahu kapan harus mundur.” Kalimat itu seperti pisau yang diselipkan perlahan ke dalam dada. Karena Roy Hali tidak sedang berbicara tentang keseimbangan energi—ia sedang berbicara tentang Meng Xiao, tentang Li Zexi, dan tentang siapa yang sebenarnya berkuasa dalam hubungan ini. Meng Xiao tidak bereaksi secara emosional. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan mengambil sebuah kotak kayu kecil dari laci di bawah meja. Di dalamnya ada sepasang cincin—satu berbentuk naga, satu berbentuk phoenix. Cincin-cincin itu adalah simbol pernikahan tradisional dalam keluarga Li. Dan Meng Xiao meletakkannya di atas meja, tepat di depan Wang Fang. “Ibu,” katanya, suaranya tenang tapi tegas, “cincin ini tidak pernah diambil kembali. Karena janji yang diucapkan di depan altar tidak bisa dibatalkan hanya karena seseorang berubah pikiran.” Detik itu, Wang Fang tersenyum—bukan senyum puas, tapi senyum yang penuh dengan pengakuan. Ia tahu: Meng Xiao bukan wanita yang bisa diintimidasi dengan status atau uang. Ia adalah wanita yang memilih untuk diam, bukan karena takut, tapi karena ia tahu kapan harus berbicara. Dan hari ini, ia berbicara. Yang Terkasih berhasil membuat penonton merasa seperti pengintai di balik kaca—kita melihat semuanya, tapi tidak bisa ikut campur. Kita menyaksikan bagaimana Li Zexi berdiri di tengah, antara ibunya yang dingin dan kekasihnya yang teguh, antara masa lalu yang ingin ia lupakan dan masa depan yang belum ia pahami. Ia bukan pahlawan, bukan penjahat—ia hanya manusia yang terjebak dalam jaring harapan keluarga, cinta yang belum selesai, dan rasa bersalah yang tak pernah ia akui. Adegan terakhir menunjukkan Meng Xiao berjalan ke belakang klinik, menuju ruang penyimpanan ramuan. Di sana, ia membuka sebuah laci tua, mengambil sebuah amplop kuning yang sudah menguning dimakan waktu. Di dalamnya ada surat—ditulis oleh ayahnya, sebelum ia meninggal. Surat itu berisi satu kalimat yang diulang tiga kali: “Jangan biarkan orang lain menentukan nilai dirimu.” Dan saat Meng Xiao membaca itu, air mata tidak jatuh. Ia hanya menutup amplop, lalu meletakkannya kembali, seolah menyimpan kekuatan itu untuk saat yang tepat. Dalam dunia Yang Terkasih, cinta bukan tentang seberapa sering kamu mengatakan ‘aku cinta kamu’. Cinta adalah tentang seberapa berani kamu mempertahankan dirimu di tengah badai yang diciptakan oleh orang-orang yang mengklaim mencintaimu. Wang Fang datang dengan maksud menguji, Roy Hali datang dengan maksud mengganti, tapi Meng Xiao tetap di sana—berdiri tegak, kalung gioknya berkilau, dan di telapak tangannya, cincin naga yang dulu diberikan Li Zexi, kini bukan lagi simbol janji, tapi simbol pilihan. Pilihan untuk tidak lari. Pilihan untuk tidak memaafkan terlalu cepat. Pilihan untuk menjadi Yang Terkasih bukan karena dipilih, tapi karena memilih diri sendiri terlebih dahulu.

Yang Terkasih: Ketika Cincin Hilang di Depan Klinik

Ada satu momen dalam hidup yang tak bisa dihapus—bukan karena kejadian besar, tapi karena kecilnya detail yang ternyata mengguncang segalanya. Di depan klinik tradisional bernama ‘Jiuling Jia Xiji Lu Clinic’, suasana dingin dan tenang seperti biasa. Namun, hari itu, udara terasa bergetar bukan karena angin, melainkan karena sebuah cincin yang jatuh dari tangan Li Zexi—seorang pria dengan rambut hitam rapi, jaket krem lembut, dan ekspresi yang selalu terlihat terkendali. Ia memegang beberapa bungkusan kertas cokelat, dikaitkan dengan tali rafia, seperti hadiah atau ramuan herbal. Tapi yang ia pegang lebih dari itu: sebuah jimat kecil, berbentuk naga perak dengan batu merah di tengah, digantung pada tali hitam. Saat ia membuka telapak tangannya, cincin itu terlepas—dan jatuh. Bukan jatuh ke lantai, tapi ke dalam genggaman seorang wanita berpakaian putih muda, berdiri di balik kaca pintu masuk. Wanita itu adalah Meng Xiao, yang berdiri dengan lengan silang, bibir tertutup rapat, mata menatap tajam seperti sedang menghitung detik-detik kesalahan yang baru saja terjadi. Yang Terkasih tidak hanya judul serial ini—ia adalah julukan yang sering disebut dalam dialog internal para karakter, meski tak pernah diucapkan langsung. Dalam adegan ini, kita menyaksikan bagaimana sebuah objek kecil—cincin—menjadi simbol dari hubungan yang retak, janji yang belum ditepati, dan kepercayaan yang mulai goyah. Li Zexi tidak langsung mengambilnya kembali. Ia menatap Meng Xiao, lalu menoleh ke arah pria lain yang baru saja keluar dari klinik: seorang pria berjas hitam, wajahnya datar, gerakannya cepat namun terukur. Pria itu—yang kemudian dikenal sebagai Lin Wei—tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk sekilas sebelum berlalu. Tapi tatapan singkat itu cukup untuk membuat Li Zexi menelan ludah. Di sini, kita mulai menyadari: ini bukan soal cincin. Ini soal siapa yang berhak memegangnya. Meng Xiao tidak memberikan cincin itu kembali. Ia hanya memandangnya, lalu menutup telapak tangannya perlahan, seolah menyimpan rahasia dalam genggaman. Ekspresinya tidak marah, bukan juga sedih—tapi ada keputusan di balik matanya. Sebagai karakter utama dalam Yang Terkasih, Meng Xiao bukan tipe wanita yang menangis di depan umum atau menghina dengan kata-kata kasar. Ia diam, dan diamnya itu lebih keras dari teriakan. Saat Li Zexi mencoba berbicara, suaranya terdengar serak, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Ia berkata, “Ini bukan apa yang kau pikirkan.” Tapi Meng Xiao hanya tersenyum tipis, lalu berbalik masuk ke dalam klinik, meninggalkan Li Zexi berdiri di ambang pintu, bungkusan-bungkusannya masih di tangan, cincin yang hilang tak lagi di sana. Adegan ini menjadi titik balik yang halus namun mematikan. Kita tahu dari konteks visual bahwa klinik ini bukan tempat biasa—di dinding belakang terlihat lemari kayu berisi laci-laci kecil, bertuliskan nama-nama rempah dan ramuan tradisional: Du Zhong, Ling Zhi, Tian Ma. Tempat ini bukan hanya klinik, tapi juga simbol warisan, tradisi, dan tanggung jawab. Dan cincin itu? Ia bukan perhiasan biasa. Dalam budaya tertentu, jimat naga dengan batu merah adalah perlindungan bagi pasangan yang akan menikah—simbol kesetiaan yang diikat oleh darah dan janji. Jadi ketika Li Zexi kehilangan cincin itu di depan Meng Xiao, bukan hanya barang yang hilang, tapi kepercayaan yang mulai retak. Yang Terkasih membangun narasi dengan cara yang sangat visual: tidak ada voice-over, tidak ada narator, hanya gerakan tangan, ekspresi mata, dan jarak antar karakter yang berbicara lebih keras dari dialog. Saat Li Zexi berdiri di luar, Meng Xiao di dalam, kaca pintu menjadi penghalang sekaligus cermin—mereka saling melihat, tapi tidak lagi berada di ruang yang sama. Bahkan saat pria berjas hitam (Lin Wei) kembali dan berbicara pelan kepada Li Zexi, kita bisa membaca dari bahasa tubuh mereka: Lin Wei tidak membela, tidak menyalahkan—ia hanya menyampaikan fakta. Dan fakta itu membuat Li Zexi menunduk, bukan karena malu, tapi karena ia tahu: ia telah melepaskan sesuatu yang tidak bisa diambil kembali. Kemudian, adegan berubah. Matahari mulai redup, lampu jalanan menyala lembut. Muncul sosok baru: ibu Li Zexi, Wang Fang, berpakaian ungu elegan, senyumnya lebar tapi matanya tajam seperti pisau. Ia datang bersama pria muda berjaket kulit hitam—kekasih Li Zexi, Roy Hali, yang dikenal dalam serial ini sebagai Pacar Liana Malik. Nama itu muncul di layar dengan efek kilau, seolah memberi tahu penonton: ini bukan sekadar tamu, ini adalah ancaman terselubung. Roy Hali berbicara dengan nada ringan, tapi setiap katanya seperti ditimbang dua kali sebelum diucapkan. Ia menyapa Meng Xiao dengan hormat, tapi tangannya tidak pernah menyentuh apa pun—tidak meja, tidak kursi, bahkan tidak udara di sekitarnya. Ia menjaga jarak, dan jarak itu adalah senjata. Wang Fang, di sisi lain, langsung mengambil alih percakapan. Ia tidak bertanya, ia menyatakan. “Kami datang untuk memastikan semuanya berjalan lancar.” Kalimat sederhana, tapi dalam konteks Yang Terkasih, itu adalah pernyataan perang. Meng Xiao tetap tenang, berdiri di balik meja resepsionis, tangan bersilang, kalung giok hijau di lehernya berkilauan di bawah cahaya lampu. Giok itu bukan hiasan—dalam tradisi Tionghoa, giok melambangkan kejujuran, kebersihan hati, dan perlindungan dari energi negatif. Dan Meng Xiao memakainya bukan untuk dipamerkan, tapi sebagai perisai. Yang Terkasih membedakan diri dari banyak serial romansa karena tidak menjadikan konflik sebagai pertarungan verbal, tapi sebagai pertarungan eksistensial. Setiap karakter bergerak bukan karena emosi semata, tapi karena posisi mereka dalam struktur keluarga, warisan, dan harapan sosial. Li Zexi bukan pria jahat—ia hanya lelah bermain peran yang terlalu lama. Ia ingin menjadi anak yang baik, kekasih yang setia, dan pewaris yang bertanggung jawab. Tapi ketiga peran itu saling bertabrakan, dan cincin itu adalah titik di mana semua tekanan meledak. Adegan terakhir menunjukkan Meng Xiao berdiri sendiri di dalam klinik, menatap cincin di telapak tangannya. Ia tidak memakainya. Ia hanya memandangnya, lalu meletakkannya di atas meja, di samping bonsai kecil yang dulu diberikan Li Zexi padanya. Bonsai itu masih hidup, daunnya hijau segar, akarnya kuat meski ditanam dalam pot kecil. Di sini, kita paham: Meng Xiao tidak akan menghancurkan apa yang masih bisa diperbaiki. Tapi ia juga tidak akan membiarkan siapa pun mengambil alih kendali atas hidupnya lagi. Yang Terkasih bukan tentang siapa yang menang atau kalah—tapi tentang siapa yang berani berhenti berpura-pura. Dan dalam dunia yang penuh dengan bungkusan kertas cokelat dan janji yang dikaitkan dengan tali rafia, kejujuran adalah satu-satunya obat yang tidak bisa dibeli di apotek mana pun.