PreviousLater
Close

Yang Terkasih Episode 43

like3.3Kchaase8.9K

Konflik Ayah dan Anak

Dede merasa sedih karena Ayahnya tidak memberitahunya tentang kegiatan ayah-anak dari sekolah, sementara Ayah berusaha meyakinkan Dede bahwa dia akan selalu ada untuknya meskipun sudah bercerai dengan Ibu.Akankah Ayah berhasil memulihkan hubungan dengan Dede setelah perceraian mereka?
  • Instagram

Ulasan episode ini

Yang Terkasih: Ketika Mantel Putih Bertemu Jas Abu-abu di Bawah Lampu Jalan

Ada satu jenis kesedihan yang tidak berteriak. Ia diam, duduk di tepi jalan, memeluk lututnya seperti anak kecil yang takut gelap. Di malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip seperti mata yang lelah, wanita itu—yang kita tahu dari dialog singkatnya sebagai Lila—tidak menangis dengan keras. Ia hanya menggigit bibirnya sampai darah mengalir, lalu menatap ke arah jalan yang kosong, seolah berharap ada yang akan berhenti. Tapi yang berhenti bukan siapa pun yang ia inginkan. Yang berhenti adalah mobil hitam berkelas, dengan ban berukuran besar dan lampu depan yang menyilaukan seperti pisau yang tajam. Dan dari dalamnya, keluar seorang pria yang namanya sudah terukir di banyak surat kabar bisnis: Jovan Hanata, Presdir Grup Hanata. Ia tidak berlari. Ia tidak berteriak. Ia hanya berjalan pelan, seolah setiap langkahnya dihitung dengan presisi milik seorang insinyur yang sedang membangun jembatan di atas jurang. Kita melihatnya dari sudut kamera yang rendah, membuatnya terlihat lebih tinggi, lebih dominan—tapi bukan dalam arti mengintimidasi. Dalam konteks ini, tingginya adalah beban. Beban dari jabatan, dari reputasi, dari semua janji yang pernah ia buat dan kemudian dilupakan. Ia berdiri di depan Lila, tangan masih di saku, mata menatap ke bawah, bukan ke wajahnya. Itu adalah gestur yang sangat Jovan: ia tidak ingin melihat rasa sakit di mata orang lain, karena ia tahu, jika ia melihatnya, ia mungkin tidak akan sanggup melanjutkan. Tapi Lila memaksanya. Ia menatapnya, dan dalam tatapan itu, ada pertanyaan yang tak terucap: “Kamu datang karena kau masih peduli… atau karena kau takut aku akan menghancurkan segalanya?” Di atas jembatan, Yudha berdiri diam, tangan memegang pagar kaca, napasnya tersengal-sengal meski cuaca tidak panas. Ia bukan pahlawan dalam cerita ini. Ia adalah latar belakang yang terlalu sering diabaikan. Ia yang pernah berjanji akan melindungi Lila, tapi ketika ujian datang, ia memilih diam. Sekarang, ia hanya bisa menonton dari atas, seperti penonton di bioskop yang tahu akhir ceritanya, tapi tetap tidak bisa berdiri dan menghentikan filmnya. Kamera berpindah ke wajahnya—dan kita melihatnya menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali, seolah mencoba menghapus bayangan Lila yang sedang duduk di bawah, dengan mantel putihnya yang kini terlihat kotor di ujung bawah, seperti simbol dari kepolosan yang telah ternoda. Yang Terkasih tidak menggunakan musik latar yang dramatis. Tidak ada string orchestra yang menggelegar saat Jovan berlutut. Yang ada hanyalah suara angin, deru mesin mobil yang mulai mati, dan detak jantung yang terdengar jelas di telinga penonton—karena kamera memilih untuk fokus pada detail: jari Jovan yang bergetar saat ia membuka pintu mobil, kuku Lila yang patah karena terlalu sering menggigit, dan tas plastik berisi kaleng minuman biru toska yang diletakkan di atas koper, seolah itu adalah satu-satunya barang yang ia bawa dari masa lalunya. Adegan berikutnya adalah yang paling menyakitkan: Jovan berlutut, bukan dalam sikap permohonan, tapi dalam sikap pengakuan. “Aku tahu aku tidak pantas berada di sini,” katanya, suaranya rendah, hampir berbisik. “Tapi aku tidak bisa biarkan kau pergi sendiri. Bukan karena aku masih mencintaimu… tapi karena aku tahu, jika kau hilang malam ini, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.” Kalimat itu bukan cinta. Itu adalah tanggung jawab yang tertunda, yang akhirnya ia ambil alih—meski ia tahu, itu mungkin terlalu lambat. Lila tidak langsung menerima. Ia menatapnya, lalu menoleh ke arah jembatan, ke arah Yudha yang masih berdiri di sana. Dan dalam satu detik, kita melihat kebingungan di matanya: siapa yang sebenarnya ia butuhkan sekarang? Orang yang pernah menyakitinya tapi kembali, atau orang yang pernah melindunginya tapi menghilang? Yang Terkasih pintar dalam menempatkan penonton di posisi yang tidak nyaman—kita tidak bisa memilih pihak, karena semua pihak salah. Tidak ada pahlawan di sini. Hanya manusia yang berusaha bertahan hidup di tengah reruntuhan cinta mereka sendiri. Ketika Jovan membantu Lila masuk ke mobil, ia tidak menyentuh tangannya lebih dari yang diperlukan. Ia hanya memberi ruang, memberi waktu, memberi kesempatan untuk bernapas. Di kursi depan, sopir tetap diam, seperti orang yang sudah terbiasa dengan drama yang terjadi di belakangnya. Mobil mulai bergerak, dan di atas jembatan, Yudha akhirnya berbalik. Ia tidak menangis. Ia hanya mengeluarkan ponselnya, lalu menghapus semua rekaman yang ia ambil tadi malam. Satu per satu. Dengan jari yang gemetar, ia menekan tombol delete, seolah menghapus juga kenangan yang ia simpan selama ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—apakah Lila akan tinggal di rumah Jovan, atau apakah ia akan turun di tengah jalan dan berjalan pergi? Tapi satu hal yang pasti: Yang Terkasih bukan cerita tentang happy ending. Ini adalah cerita tentang *beginning* yang penuh luka, di mana dua orang yang pernah saling menyakiti, kini berusaha menemukan cara untuk tidak saling menghancurkan lagi. Adegan terakhir menunjukkan Jovan duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela, sementara Lila berbaring di sebelahnya, mata terpejam, tapi tangannya masih memegang kaleng minuman itu. Di luar, kota berlalu dengan cepat, lampu-lampu berkedip seperti bintang yang jatuh. Kamera perlahan zoom out, lalu berpindah ke atas jembatan—Yudha sudah tidak ada di sana. Hanya pagar kaca yang masih berkilauan, dan bayangan yang tertinggal di permukaannya: bayangan seorang pria yang pernah berdiri di sana, menonton cinta yang bukan lagi miliknya. Yang Terkasih berhasil menciptakan dunia yang sangat realistis, di mana cinta tidak selalu berakhir dengan pelukan dan senyum. Kadang, cinta berakhir dengan diam, dengan mobil yang berhenti di tikungan jalan, dengan mantel putih yang kotor, dan dengan jas abu-abu yang masih rapi—meski hatinya sudah retak. Jovan Hanata bukan karakter yang sempurna. Ia egois, ia salah, ia mengecewakan. Tapi di malam itu, ia memilih untuk datang. Dan itu, dalam dunia yang penuh dengan orang yang lari dari tanggung jawab, adalah keberanian yang sangat langka. Kita sering berpikir bahwa cinta sejati adalah tentang pengorbanan total. Tapi Yang Terkasih mengajarkan kita hal lain: kadang, cinta sejati adalah tentang datang—meski kamu tahu kamu tidak pantas, meski kamu tahu dia mungkin tidak akan menerimamu, meski kamu tahu ini mungkin hanya akan membuat semuanya lebih buruk. Karena terkadang, yang paling berani bukanlah mereka yang pergi, tapi mereka yang tetap tinggal… meski hanya untuk satu malam. Dan di akhir, ketika mobil menghilang di kejauhan, kita tidak mendengar musik penutup. Yang kita dengar hanyalah suara kaleng minuman yang jatuh di lantai mobil, lalu berguling pelan—sebagai simbol bahwa sesuatu yang rapuh masih bisa bergerak, masih bisa berubah, masih bisa diperbaiki… asalkan ada yang mau mengambilnya kembali. Yang Terkasih bukan sekadar drama. Ini adalah catatan harian dari jiwa yang sedang berjuang. Dan dalam setiap adegan, kita melihat diri kita: dalam Lila yang jatuh, dalam Jovan yang kembali, dan dalam Yudha yang diam. Karena pada akhirnya, kita semua pernah menjadi salah satu dari mereka. Dan itulah yang membuat Yang Terkasih begitu sulit dilupakan.

Yang Terkasih: Ketika Jovan Hanata Berhenti di Tikungan Malam

Malam itu, udara dingin menyusup lewat celah pagar jembatan beton yang berkarat, sementara lampu jalan berkedip-kedip seperti napas yang tak stabil. Di bawahnya, seorang wanita duduk membungkuk di tepi trotoar, mantel putihnya terlihat kusut dan basah di ujung lengan—bukan karena hujan, tapi karena air mata yang mengalir tanpa henti. Di sampingnya, koper mungil berwarna krem berdiri tegak, seperti satu-satunya saksi bisu atas keputusasaan yang sedang ia sembunyikan dalam genggaman kaleng minuman berwarna biru toska. Ia tidak menangis keras, hanya menggigit bibir bawahnya hingga merah, sesekali menatap ke arah jalan yang kosong, seolah menunggu sesuatu… atau seseorang. Tapi yang datang bukan siapa pun yang ia harapkan—melainkan mobil hitam berkilau yang melaju pelan, lampu depannya memancarkan cahaya biru kehijauan yang aneh, seperti sinar dari dunia lain. Di dalam mobil, Jovan Hanata duduk di kursi belakang, tubuhnya tegak, tangan kanannya bersandar di jendela, jari-jarinya bergerak perlahan seolah menghitung detik-detik yang berlalu. Wajahnya tidak terlihat jelas, hanya siluet profil yang tegas, dengan rambut pendek yang disisir ke belakang dan garis rahang yang tajam seperti pahatan batu. Di layar kiri atas, teks muncul: (Jovan Hanata, Presdir Grup Hanata). Tidak ada musik, hanya suara mesin mobil yang berdesis pelan, dan angin malam yang menggerakkan daun-daun kering di pinggir jalan. Ini bukan adegan pertemuan biasa. Ini adalah momen ketika dua dunia bertabrakan—dunia yang telah jatuh dan dunia yang masih berdiri tegak, meski di atas fondasi yang rapuh. Kamera bergeser ke sudut lebar, menunjukkan posisi strategis: wanita di bawah, Jovan di dalam mobil, dan di atas jembatan, seorang pria lain berdiri diam, memegang pagar kaca, matanya menatap ke bawah dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara khawatir, penyesalan, dan kepasifan yang mengkhawatirkan. Pria itu adalah Yudha, sahabat lama Jovan, sekaligus mantan kekasih wanita di bawah. Ia tidak turun. Ia hanya berdiri, seperti patung yang dipasang di tengah konflik emosional yang sedang meletus. Di sini, kita mulai menyadari bahwa Yang Terkasih bukan sekadar judul drama romantis—ini adalah kisah tentang tanggung jawab yang ditunda, janji yang dilupakan, dan cinta yang terlalu sering dikorbankan demi ambisi. Saat mobil berhenti, Jovan keluar dengan gerakan yang terukur. Ia tidak langsung mendekati wanita itu. Ia berdiri beberapa langkah di belakangnya, tangan masuk ke saku jas abu-abu muda yang ia kenakan—setelan tiga bagian dengan dasi bergaris diagonal, ikat pinggang berlogo H yang mengkilap di bawah cahaya lampu jalan. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap. Dan dalam diam itu, wanita itu akhirnya menoleh. Matanya berkaca-kaca, wajahnya pucat, rambut hitamnya terurai bebas di bahu, seolah ia baru saja melepas semua topeng yang selama ini ia pakai. Ia berbicara, suaranya parau, tapi cukup jelas untuk didengar oleh kamera yang bersembunyi di balik tiang lampu: “Kamu datang… tapi bukan untukku, bukan?” Jovan tidak menjawab langsung. Ia melangkah maju, lalu berlutut—bukan dalam arti hormat, tapi dalam arti pengakuan. Ia berlutut di depannya, sejajar dengan pandangannya, dan untuk pertama kalinya, kita melihat ekspresi di wajahnya: bukan keangkuhan, bukan kejijikan, tapi kelelahan yang dalam. “Aku datang karena aku tahu kau tidak akan pergi sendiri,” katanya pelan. “Dan aku tidak bisa biarkan kau hilang di malam seperti ini.” Kata-kata itu bukan janji cinta, tapi pengakuan bahwa ia masih peduli—meski ia tahu, ia bukan orang yang pantas untuk menjadi pelindungnya lagi. Di atas jembatan, Yudha mengangkat ponselnya. Ia tidak menelepon siapa pun. Ia hanya merekam. Dengan tangan yang gemetar, ia menekan tombol rekam, lalu menurunkan ponsel perlahan, seolah ingin menyimpan momen ini sebagai bukti bahwa ia pernah ada di sana, di tengah kehancuran yang ia bantu ciptakan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini—apakah wanita itu akan naik ke mobil Jovan, atau apakah ia akan berdiri, mengambil kopernya, dan berjalan pergi tanpa menoleh? Tapi satu hal yang pasti: Yang Terkasih bukan cerita tentang siapa yang menang atau kalah dalam cinta. Ini adalah cerita tentang bagaimana kita tetap manusia, bahkan ketika kita sudah kehilangan segalanya—termasuk diri kita sendiri. Adegan berikutnya menunjukkan Jovan membuka pintu mobil, membantu wanita itu masuk dengan cara yang sangat hati-hati, seolah ia sedang menangani barang berharga yang rentan pecah. Ia tidak menyentuh tangannya lebih dari yang diperlukan. Ia hanya memberi ruang, memberi waktu, memberi kesempatan untuk bernapas. Di kursi depan, sopir tidak berbicara. Ia hanya menatap ke depan, seperti orang yang sudah terbiasa dengan drama yang terjadi di belakangnya. Mobil mulai bergerak, lampu rem menyala merah, dan di atas jembatan, Yudha masih berdiri, ponselnya kini dimatikan, digenggam erat di dekat dada. Ia menutup mata, lalu menghela napas panjang—sebuah tanda bahwa ia akhirnya menerima: cintanya bukan lagi miliknya. Ia bukan tokoh utama dalam kisah ini. Ia hanya penonton yang terlambat datang ke bioskop. Yang Terkasih berhasil menciptakan atmosfer yang sangat padat tanpa perlu dialog berlebihan. Setiap gerakan—mulai dari cara Jovan menarik napas sebelum turun dari mobil, hingga cara wanita itu memeluk kaleng minuman seperti itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang—semua itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Ini adalah film yang menghargai keheningan, yang tahu bahwa kadang, yang paling menyakitkan bukanlah kata-kata yang diucapkan, tapi yang tertahan di tenggorokan. Dan ketika Jovan akhirnya berbisik, “Aku tidak bisa janji akan memperbaiki semuanya… tapi aku bisa janji, aku tidak akan pergi sebelum kau aman,” kita tahu: ini bukan akhir. Ini hanya awal dari proses penyembuhan yang akan sangat berat, tapi juga sangat layak ditempuh. Dalam industri drama Indonesia yang sering terjebak dalam klise ‘cinta segitiga’ atau ‘wanita jahat vs baik’, Yang Terkasih berani berbeda. Ia tidak membuat karakter jahat atau baik—ia membuat mereka manusia. Jovan Hanata bukan pahlawan, tapi ia juga bukan penjahat. Ia adalah pria yang salah, yang mencoba memperbaiki kesalahannya dengan cara yang tidak sempurna. Wanita itu bukan korban pasif—ia adalah sosok yang kuat, yang jatuh bukan karena lemah, tapi karena ia percaya pada orang yang salah. Dan Yudha? Ia adalah cermin dari kita semua: orang-orang yang tahu apa yang benar, tapi terlalu takut untuk melakukannya. Di akhir adegan, kamera kembali ke sudut lebar: mobil menghilang di tikungan jalan, sementara Yudha perlahan berbalik dan berjalan menuju tangga jembatan. Cahaya lampu jalan memantul di kaca pagar, menciptakan efek bayangan ganda—seperti dua versi dirinya yang berjalan beriringan: satu yang masih berharap, satu yang sudah menyerah. Dan di kejauhan, suara deru mesin mobil masih terdengar, samar-samar, seperti denting jam yang terus berdetak, mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah berhenti—meski hati kita sudah berhenti berdetak sejenak. Yang Terkasih bukan sekadar tontonan malam hari. Ini adalah cermin yang dipaksakan untuk kita lihat, meski kita lebih suka menutup mata. Karena kadang, yang paling sulit bukan menghadapi kehilangan—tapi mengakui bahwa kita masih mencintai orang yang telah menyakiti kita. Dan itulah yang membuat Jovan Hanata begitu menarik: ia tidak mencoba menjadi pahlawan. Ia hanya mencoba menjadi manusia yang cukup berani untuk kembali, meski tahu ia mungkin tidak akan diterima. Itu bukan cinta yang sempurna. Tapi itu cinta yang nyata.