Konflik Pabrik
Arman, yatim piatu yang jadi konglomerat, menyamar untuk ungkap korupsi dan eksploitasi di pabrik dan perusahaan anak grupnya, menindak para pelaku, memperbaiki pabrik, menyelamatkan warga, lalu saat reuni SMA buka identitas untuk membalas dendam dan menemukan cinta sejati.
Rekomendasi untuk Anda




.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Ekspresi Li Wei: Dari Tepuk Tangan ke Terkejut Total
Awalnya Li Wei tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, lalu matanya membulat saat Sun Zhiyuan menunjukkan cek. Perubahan ekspresinya bagaikan roller coaster emosional—dari bangga menjadi syok dalam tiga detik. Konflik Pabrik benar-benar masterclass dalam akting ekspresi mikro! 🎭
Wanita di Podium: Kekuatan dalam Kesunyian
Ia tidak berteriak, tidak menangis—hanya berdiri, menatap tajam, lalu memberikan cek dengan gerakan tenang namun penuh makna. Di tengah hiruk-pikuk Konflik Pabrik, kekuatan sejati justru lahir dari ketenangan. Wanita ini bukan figur latar—ia adalah pusat badai. ⚔️
Cek sebagai Simbol Perang Dingin
Dua cek—satu senilai delapan ratus ribu, satu lagi satu juta—bukan transaksi, melainkan deklarasi perang. Setiap lipatan kertas itu menyimpan dendam, ambisi, dan pengkhianatan. Konflik Pabrik mengajarkan: di dunia korporat, uang bukan alat pembayaran, melainkan bahasa diplomasi yang mematikan. 💸
Zhang Hao: Si Pemula yang Jadi Bintang Drama
Dari duduk santai sampai melompat berdiri dengan mulut ternganga—Zhang Hao berhasil mencuri perhatian hanya dengan reaksi spontan. Ia bukan tokoh utama, namun momen-momen kecilnya justru membuat Konflik Pabrik terasa lebih hidup dan manusiawi. Kadang, penonton justru jatuh cinta pada karakter pendukung! 😅
Pembelaan Sun Zhiyuan yang Membekukan Darah
Sun Zhiyuan berdiri tegak di depan podium, wajah dingin namun mata menyala—seperti badai yang belum meletus. Saat ia mengeluarkan cek senilai satu juta yuan, seluruh ruangan membeku. Ini bukan sekadar uang, melainkan senjata diam-diam dalam Konflik Pabrik. 💀 #DramaKantorGila