Konflik Pabrik
Arman, yatim piatu yang jadi konglomerat, menyamar untuk ungkap korupsi dan eksploitasi di pabrik dan perusahaan anak grupnya, menindak para pelaku, memperbaiki pabrik, menyelamatkan warga, lalu saat reuni SMA buka identitas untuk membalas dendam dan menemukan cinta sejati.
Rekomendasi untuk Anda




.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Telepon yang Mengubah Semua
Saat pria berpakaian mantel bulu mengangkat ponsel, wajahnya berubah dari sombong menjadi panik. Di dunia Konflik Pabrik, satu panggilan bisa lebih mematikan daripada pisau. Dan yang paling menakutkan? Ia tidak tahu siapa yang menelepon. 📞💀
Ekspresi Wajah sebagai Naskah Tak Tertulis
Tidak ada dialog keras, namun mata pria berkacamata itu sudah bercerita: 'Aku tahu.' Perempuan muda itu menunduk—bukan karena malu, melainkan karena sedang menghitung detik hingga bom meledak. Konflik Pabrik dimainkan dalam keheningan. 🤫
Perempuan dalam Jas Biru Muda: Senjata Tersembunyi
Ia datang dengan tenang, tetapi setiap gerakannya bagai kode rahasia. Saat ponsel menampilkan '99%', semua berhenti. Dalam Konflik Pabrik, kekuatan bukan berada di tangan yang memegang gelas anggur—melainkan di jari yang mengetuk layar. 💫
Meja Bundar yang Penuh dengan Duri
Meja makan mewah, hiasan bonsai, namun udara tegang seperti sebelum badai. Setiap kursi dalam Konflik Pabrik merupakan posisi strategis—siapa yang duduk, siapa yang berdiri, dan siapa bahkan tak berani mengangkat sendok. 🍽️🔥
Mantel Bulu vs. Mantel Abu-Abu: Pertarungan Gaya dan Kekuasaan
Pria berpakaian mantel bulu dengan kalung emas terlihat dominan, namun pria berpakaian mantel abu-abu diam-diam mengendalikan narasi. Konflik Pabrik bukan hanya soal uang—melainkan siapa yang berani menatap lurus saat kebenaran muncul di layar ponsel. 😏