Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat
Arman, Dewa Pedang yang menyamar sebagai Tabib Desa, menikah dengan Irma demi menjalani ujian cinta. Selama tiga tahun ia diam-diam melindungi Sekte Pedang Ara, namun dihina dan tak diakui. Saat masa perjanjian hampir usai, rahasia dan ambisi tersembunyi mulai mengguncang segalanya.
Rekomendasi untuk Anda





Kain Merah & Karpet Naga: Simbol Kekuasaan yang Menjebak
Latar belakang merah menyala dan karpet naga di tengah ruangan bukan hanya dekorasi—itu jebakan emosional. Semua karakter berdiri di atas simbol kekuasaan, tapi siapa yang benar-benar menguasai? Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat mengingatkan: kekuasaan itu seperti kain merah—indah, tapi mudah robek jika dipaksakan. 🧵
Si Pria Bertopi Perak vs Si Botak Berbulu Hitam: Duel Gaya
Perbandingan visual antara pria bertopi perak dengan jubah biru elegan dan si botak berbulu hitam sangat sengit! Yang satu tenang seperti air, yang lain menggelegar seperti petir. Tapi lihat ekspresi mereka saat pedang ditarik—bukan kemarahan, tapi rasa bersalah yang tertahan. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat benar-benar masterclass dalam kontras karakter. ⚖️
Wanita Putih di Tengah Badai: Siapa yang Sebenarnya Dikorbankan?
Xu Rong berdiri di pusat kerumunan, putih bersih di antara warna gelap—seperti lilin di tengah badai. Tapi matanya tidak lemah; ia tahu semua rahasia. Adegan ini bukan tentang siapa yang menang, tapi siapa yang rela menjadi korban demi keadilan palsu. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat membuat kita bertanya: apakah kebaikan harus selalu berdarah? 🕯️
Adegan Ini Bikin Napas Tertahan: Saat Jari Menunjuk, Dunia Berhenti
Saat pria berjubah cokelat menunjuk dengan jari gemetar—seluruh ruangan membeku. Bukan karena ancaman, tapi karena semua tahu: titik balik sudah tiba. Detil seperti gelang kulit, hiasan kepala, bahkan lipatan kain—semua bekerja bersama menciptakan ketegangan yang nyata. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat sukses membuat detik terasa seperti jam. ⏳
Ekspresi Wajah yang Berbicara Lebih Keras dari Dialog
Di adegan pertemuan besar, setiap tatapan Li Wei terasa seperti pisau tumpul—sakit tapi tak berdarah. Ekspresinya saat melihat Xu Rong menunduk? Bukan kesedihan, tapi kekecewaan yang mengendap. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat memang bukan soal pedang, tapi soal diam yang lebih berisik daripada teriakan. 🗡️