Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat
Arman, Dewa Pedang yang menyamar sebagai Tabib Desa, menikah dengan Irma demi menjalani ujian cinta. Selama tiga tahun ia diam-diam melindungi Sekte Pedang Ara, namun dihina dan tak diakui. Saat masa perjanjian hampir usai, rahasia dan ambisi tersembunyi mulai mengguncang segalanya.
Rekomendasi untuk Anda





Gadis Biru & Senyum Palsu
Ia tersenyum manis pada sang pangeran, namun tangannya menggenggam erat gaun putih—tanda ketakutan tersembunyi. Dalam Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat, kebohongan sering datang dalam balutan sutra halus dan senyuman yang terlalu sempurna 😌
Kepala Hitam Berteriak, Langit Pun Menangis
Teriakan pria berpakaian hitam bukan sekadar amarah—itu jeritan jiwa yang hancur. Latar batu tua dan kabut memperkuat kesan tragedi klasik. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat berhasil membuat kita merasa seperti saksi bisu yang tak mampu berbicara 🌫️
Tangan yang Menyentuh, Jiwa yang Terguncang
Sentuhan ringan di lengan gaun putih—detail kecil yang mengubah arah cerita. Di tengah keramaian, dua jiwa saling menyadari: ada yang lebih besar dari dendam. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat mengajarkan bahwa kelembutan bisa menjadi senjata paling tajam 💫
Gerbang Kayu, Nasib yang Tertutup
Dua wanita berdiri di gerbang kayu tua—simbol akhir atau awal? Kamera naik perlahan, menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan takdir. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat tidak memberi jawaban, tetapi meninggalkan pertanyaan yang menggantung di udara 🏯
Darah di Batu, Hati yang Robek
Adegan lantai berdarah versus wajah dingin pria kulit putih—kontras emosional yang menusuk. Pedang Terangkat, Penyesalan Terlambat bukan hanya judul, tetapi mantra kesedihan yang terus menggema. Setiap tatapan diam menyimpan ribuan kata yang tak terucap 🩸