Jangan Usik Orang Buta Itu
Wandi, seorang tukang pijat tunanetra, hidup sama istrinya yang lagi hamil. Keduanya saling sembunyikan identitas mereka. Dulunya, Wandi itu intelijen terhebat di dunia, dengan julukan “Sang Cahaya”. Sedangkan, Sarah itu pembunuh terbaik di Kelompok Arwah. Untuk lindungi keluarga kecil mereka, Wandi yang udah pensiun pun kembali lagi. Dalam sekejap, dunia jadi kacau dan semua orang ketakutan.
Rekomendasi untuk Anda



印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Si Tua dengan Jaket Hitam: Sang Pengamat yang Tak Bicara
Dia hanya berdiri, tangan di belakang, tapi matanya sudah menceritakan segalanya. Di Jangan Usik Orang Buta Itu, kekuasaan bukan di senjata atau suara—tapi di diam yang terlalu dalam. Setiap tatapannya seperti menghitung detik sebelum ledakan. 🕵️♂️
Pria Kacamata Emas: Gaya vs Bahaya
Kacamata steampunk + tongkat = aura 'jangan dekati aku'. Tapi di Jangan Usik Orang Buta Itu, gaya itu justru jebakan—saat dia ambil gelas, kita tahu: ini bukan minum, ini eksekusi halus. 💀 Penampilan elegan, niatnya dingin seperti es di gudang tua.
Gelas-Gelas yang Berbicara Lebih Keras dari Dialog
Ratusan gelas kecil di meja kayu tua—bukan prop, tapi simbol tekanan kolektif. Di Jangan Usik Orang Buta Itu, setiap kali seseorang meneguk, kita merasa seperti ikut menelan racun kesepian. Detail ini bikin napas tertahan. 🥃
Mereka Tak Minum—Mereka Menghukum
Ini bukan pesta, ini ritual. Gadis '98', si kulit hitam berbulu putih, sang tua berjaket—semua bergerak seperti bagian dari mesin hukuman. Jangan Usik Orang Buta Itu mengajarkan: kadang, kekerasan paling mengerikan datang dalam bentuk senyum dan gelas kosong. 😶
Permainan Gelap di Gudang Berdebu
Jangan Usik Orang Buta Itu bukan sekadar drama—ini pertarungan psikologis di balik gelas-gelas kecil. Gadis berbaju '98' dengan anting petir pink itu? Dia bukan korban, tapi master manipulasi yang diam-diam mengatur ritme ketakutan. 🔥 Setiap teguknya seperti tekanan pada jantung penonton.