PreviousLater
Close

Sang Putri Peramal Episode 33

like2.0Kchaase1.6K

Sang Putri Peramal

Pada malam pernikahan Cahaya, mempelai prianya tiba di kamar pengantin dengan membawa pisau, berniat membunuhnya. Cahaya tetap tenang dan menyatakan bahwa suaminya tak akan membunuhnya karena dialah peramal terkemuka! Saksikan bagaimana ramalan Cahaya menjadi kenyataan
  • Instagram

Ulasan episode ini

Anak Kecil di Pasar, Mata yang Melihat Semua

Si kecil dalam gaun merah muda duduk diam, menyaksikan kekejaman dengan mata polos—namun justru di situlah kekuatan tersembunyi bersemayam. Sang Putri Peramal mungkin lahir dari kesedihan seperti ini. 🌸 Kesadaran datang lebih awal pada jiwa yang ditakdirkan.

Pria Berbaju Abu-abu, Pahlawan yang Tak Diakui

Dia bukan pahlawan klasik—dia marah, kasar, tetapi tangannya membela si kecil. Dalam Sang Putri Peramal, kebaikan sering kali muncul dari tempat yang tak terduga. 💪 Bukan pedang yang membuatnya hebat, melainkan pilihannya saat semua orang lari.

Raja Muda & Pengkhianat: Drama di Balik Kabut

Ekspresi dingin sang pangeran versus ketakutan sang penasihat—duet mematikan di hutan berkabut. Sang Putri Peramal mengajarkan: kekuasaan bukan terletak di takhta, melainkan pada siapa yang berani berdiri teguh saat orang lain berteriak. 🕊️

Gaun Hitam, Rambut Terikat, dan Kutukan yang Bernyanyi

Setiap hiasan rambutnya bergetar seiring napasnya—Sang Putri Peramal bukan sekadar peramal, ia adalah alat takdir yang hidup. Darah di tangan? Itu bukan kegagalan. Itu adalah kontrak dengan takdir. 🔮

Darah di Telapak Tangan, Nasib yang Ditakdirkan

Tangannya berlumur darah, tetapi matanya tenang—seakan Sang Putri Peramal tahu segalanya akan terjadi. Adegan hutan gelap itu bukan akhir, melainkan awal dari kutukan yang tak dapat dielakkan. 💀 Setiap tetes darah adalah janji yang tak tertulis.