Sang Putri Peramal
Pada malam pernikahan Cahaya, mempelai prianya tiba di kamar pengantin dengan membawa pisau, berniat membunuhnya. Cahaya tetap tenang dan menyatakan bahwa suaminya tak akan membunuhnya karena dialah peramal terkemuka! Saksikan bagaimana ramalan Cahaya menjadi kenyataan
Rekomendasi untuk Anda



印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Baju Hitam dengan Benang Emas
Detail bordir naga di baju hitam sang pria bukan sekadar dekorasi—itu simbol kekuasaan yang rapuh. Saat ia berlutut, benang emas itu tampak kusut, seperti nasibnya yang tak bisa lagi dikendalikan. Sang Putri Peramal memang ahli membaca tanda 🐉
Tiga Wanita, Satu Pintu Merah
Dua pengawal diam di sisi, tapi tatapan mereka lebih keras dari pedang. Sang Putri Peramal berdiri di tengah, tenang—seperti badai yang belum meletus. Pintu merah di belakang? Bukan pintu keluar, tapi pintu masuk ke jurang baru 😶🌫️
Lutut yang Menangis Tanpa Air Mata
Ia berlutut bukan karena takut, tapi karena lelah menahan dusta. Adegan ini di Sang Putri Peramal membuatku sadar: kadang pengorbanan terbesar bukan mati—tapi hidup dalam pura-pura. Lengan bajunya gemetar, tapi suaranya tetap dingin ❄️
Kalimat Terakhir yang Tak Diucapkan
Saat dia berbalik pergi, bibirnya bergerak—tapi tak ada suara. Subtitle muncul: 'Hanya dusta yang tak bisa dimaafkan'. Sang Putri Peramal tahu semua, tapi diam. Karena kali ini, kebenaran lebih berbahaya dari rahasia 🕊️
Pelukan yang Penuh Dendam
Adegan pelukan pertama di awal Sang Putri Peramal ternyata bukan cinta—tapi jebakan emosional. Ekspresi pahit di wajahnya saat melepaskan pelukan itu bikin merinding 🥲 Apa yang sebenarnya terjadi di balik senyum tipisnya?